
HIMBAUAN – Kedatangan mantan pelatih Timnas Uzbekistan, Timur Kapadze, ke Indonesia pada Jumat, 21 November 2025, segera menjadi sorotan publik dan memicu gelombang spekulasi hangat. Bukan tanpa alasan, Kapadze yang dikenal sebagai arsitek di balik melesatnya performa Timnas Uzbekistan, memberikan pengakuan mengejutkan terkait perkembangan signifikan sepak bola Indonesia. Ia menilai, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, kekuatan Timnas Indonesia telah tumbuh pesat, menunjukkan peningkatan yang nyata dan impresif di kancah regional maupun global.
Menurut Kapadze, progres positif ini terbukti dari keberhasilan Timnas Indonesia menembus babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, sebuah pencapaian yang menandai lonjakan performa tim Garuda. Meskipun langkah mereka akhirnya terhenti oleh kekuatan Arab Saudi dan Irak, performa yang ditunjukkan membuktikan bahwa Indonesia bukan lagi tim yang bisa diremehkan. “Penilaiannya positif, perkembangannya tentu ada. Lawannya lebih kuat, bukan Indonesia yang lemah,” ujar Kapadze usai menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pernyataan ini secara otomatis meningkatkan citra sepak bola Indonesia di mata internasional, menyoroti kerja keras dan dedikasi yang telah ditanamkan.
Pengamatan Kapadze terhadap kekuatan baru Timnas Indonesia didasari pada penelusuran rekam jejak para pemain muda yang sebelumnya ia hadapi di Piala Asia U-23 2024 di Qatar. Turnamen tersebut menjadi panggung bagi Uzbekistan untuk mengalahkan skuad asuhan Shin Tae-yong dengan skor 2–0 di semifinal. Namun, dari kekalahan tersebut, Kapadze justru melihat potensi besar. Nama-nama seperti Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Ivar Jenner, dan Ernando Ari menjadi bukti nyata kemajuan regenerasi pemain Indonesia. “Saat terbang ke sini, saya mempelajari siapa saja pemainnya. Hampir 10 sampai 11 pemain diambil dari U-23. Perkembangannya bagus,” imbuhnya, menegaskan bahwa basis pemain muda ini adalah fondasi yang kokoh untuk masa depan. Keberhasilan Uzbekistan sendiri mencapai final dan memastikan tempat di Olimpiade Paris 2024 setelah menjadi tiga besar di turnamen tersebut, semakin memperkuat kredibilitas penilaian Kapadze.
Kedatangan sosok berdarah Georgia ini ke Tanah Air sontak membangkitkan spekulasi publik mengenai kemungkinan ia menjadi juru taktik baru Timnas Indonesia. Rumor ini mencuat di tengah kekosongan posisi pelatih kepala setelah Patrick Kluivert hengkang akibat kegagalan membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, Kapadze dengan tegas membantah bahwa kunjungannya ke Indonesia berkaitan dengan seleksi pelatih baru timnas. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya semata-mata memenuhi undangan dari bidang pariwisata. “Tidak ada rencana resmi untuk wawancara terkait kepelatihan. Tapi saya akan mempelajari semua tawaran. Saya terbuka,” ucapnya, menyiratkan bahwa pintu peluang tetap terbuka meski kunjungan utamanya bukan untuk tujuan tersebut.
Kendati demikian, Kapadze tidak menampik adanya kontak awal dengan PSSI perihal ketertarikan untuk melatih Timnas Indonesia. Ia menyebutkan bahwa sempat ada pembicaraan dengan Sumardji, salah satu petinggi federasi, namun ditegaskan bahwa dialog tersebut masih bersifat sangat prematur dan belum mengarah pada kesepakatan konkret. “Ada kontak dengan federasi, saya berbicara dengan Sumardji. Tapi tidak konkret. Pertanyaannya baru sebatas apakah saya memiliki keinginan,” jelas Kapadze, menggambarkan bahwa pembicaraan lebih lanjut mungkin saja akan dilakukan setelah kunjungan resminya selesai, menjaga asa para penggemar sepak bola Indonesia.
Saat ini, Timur Kapadze diketahui tidak sedang menukangi klub atau tim mana pun. Sebelum statusnya saat ini, ia adalah sosok yang berhasil membawa Timnas Uzbekistan melangkah jauh hingga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, dengan catatan impresif dua kemenangan dan dua hasil seri dari empat laga yang telah dilakoni. Puncak prestasinya pada September 2025 adalah saat ia sukses membawa Uzbekistan menjuarai CAFA Nations Cup setelah berhasil menundukkan rival bebuyutan Iran dengan skor tipis 1–0 di partai final, sebuah pencapaian yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai pelatih bertangan dingin.
Namun, takdirnya bersama federasi Uzbekistan berubah drastis ketika manajemen menunjuk legenda sepak bola Italia, Fabio Cannavaro, sebagai pelatih kepala untuk tampil di putaran final Piala Dunia 2026. Kapadze pun digeser menjadi asisten Cannavaro, sebuah posisi yang kemudian ia tinggalkan hanya setelah dua pertandingan. Keputusan Kapadze untuk mundur dari peran asisten Cannavaro adalah murni pilihannya. “Itu keputusan saya sendiri. Saya tidak mau menjadi asisten. Lebih baik melanjutkan karier sebagai pelatih kepala di tempat lain,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa keputusannya tersebut didasari oleh pertimbangan yang rasional dan didukung penuh oleh federasi, namun ia berprinsip untuk tidak menerima peran baru yang tidak sesuai dengan ambisinya untuk menjadi pelatih kepala. Hal ini menunjukkan profesionalisme dan ambisi Kapadze yang kuat dalam dunia kepelatihan.
Sumber: MSN Sport Indonesia
Pilihan Editor: Tiga Alasan PSSI Tunjuk Nova Arianto Latih Timnas U-20 Indonesia
Pilihan Editor: Sosok Ideal Pelatih Tim Nasional


