
HIMBAUAN – Karier pelatih Stefano Pioli di Fiorentina tampaknya berada di ujung tanduk. Hasil buruk kembali mendera La Viola pada pekan ke-10 Liga Italia, menempatkan sang juru taktik dalam posisi yang semakin sulit untuk dipertahankan.
Pada Minggu (2/11/2025), Fiorentina harus menelan pil pahit di kandang sendiri setelah takluk 0-1 dari Lecce, tim yang juga tengah berjuang keras menjauh dari zona degradasi. Kekalahan ini sontak mengguncang stabilitas tim, mendorong I Gigliati semakin dalam ke jurang zona maut dengan hanya mengumpulkan 4 poin dan menempati peringkat ke-19.
Ironisnya, posisi Fiorentina bahkan bisa merosot menjadi juru kunci klasemen apabila Genoa berhasil mengatasi Sassuolo pada pertandingan yang dijadwalkan Senin. Situasi ini tentu sangat mengejutkan, mengingat klub berjuluk Si Ungu ini adalah finalis UEFA Conference League sebanyak dua kali dalam tiga musim terakhir, sebuah pencapaian yang mengindikasikan kualitas dan ambisi yang tinggi.
Sejak kembali ke Serie A pada musim 2004-2005 setelah sempat dinyatakan bangkrut dan terdepak ke Serie C2, Fiorentina praktis hanya sekali merasakan perjuangan sengit menghindari degradasi, yakni pada musim pertama mereka promosi kembali ke divisi teratas. Setelah periode itu, La Viola umumnya selalu nyaman bertengger di papan tengah, bahkan beberapa kali berhasil finis di empat besar kompetisi. Kontras dengan reputasi klub, keterpurukan saat ini menjadi anomali yang sulit diterima para penggemar.
Menjelang musim 2025-2026, sebenarnya ada optimisme yang membuncah di kalangan Fiorentina. Keputusan untuk kembali menunjuk Stefano Pioli sebagai pelatih dianggap sebagai langkah strategis. Dalam beberapa tahun terakhir, Pioli telah bertransformasi dari juru taktik biasa menjadi figur elite di kancah sepak bola Italia. Puncaknya, ia berhasil membawa AC Milan meraih Scudetto pada musim 2021-2022, sebuah prestasi yang turut mengantarkannya terpilih sebagai pelatih terbaik Serie A pada musim tersebut. Sebelum kembali ke Firenze, Pioli juga sempat menangani bintang dunia Cristiano Ronaldo di klub Liga Arab Saudi, Al Nassr, menambah daftar pengalaman bergengsi dalam portofolionya.
Ini bukanlah kali pertama Pioli membesut Fiorentina. Sebelumnya, mantan bek yang pernah memperkuat Parma dan Juventus pada era 1980-an ini pernah menukangi I Viola antara tahun 2017 hingga 2019, namun ia mengundurkan diri sebelum musim 2018-2019 berakhir. Sayangnya, reuni Stefano Pioli dengan Fiorentina kali ini justru jauh dari harapan dan tidak berjalan mulus.
Secara mengejutkan, Fiorentina belum sekalipun meraih kemenangan dalam sepuluh pertandingan Serie A terakhir mereka. Catatan statistik menunjukkan performa yang sangat mengkhawatirkan: hanya empat hasil imbang dan lima kekalahan, dengan minimnya produktivitas gol (hanya mencetak 7 gol) serta rapuhnya lini pertahanan (kebobolan 16 gol). Dari pekan ke pekan, peringkat Fiorentina terus merosot, dan manajemen klub akhirnya dikabarkan mengambil tindakan tegas setelah kekalahan memalukan dari Lecce.
Sebagai respons awal, para pemain diinstruksikan untuk menjalani ritiro (pemusatan latihan tertutup) hingga Rabu mendatang, guna mengevaluasi dan meningkatkan performa. Sementara itu, di jajaran direksi, pembicaraan intensif tengah dilakukan dengan Pioli terkait masa depannya. Situasi ini semakin diperkeruh dengan mundurnya direktur olahraga Daniele Prade dari klub, menyusul desakan kuat dari para suporter yang kecewa.
Oleh karena itu, Direktur Teknik Goretti dan Manajer Umum Alessandro Ferrari kini berada di garis depan untuk membuat keputusan krusial. Segala indikasi mengarah pada pemecatan Pioli. Meskipun hingga Senin (3/11/2025) pagi WIB belum ada pengumuman resmi mengenai didepaknya Stefano Pioli dari kursi pelatih Fiorentina, seperti yang dikutip dari Tuttomercatoweb, langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pelatih berusia 60 tahun itu diyakini hanya tinggal menunggu waktu.
Pihak Fiorentina saat ini hanya perlu menyelesaikan detail kesepakatan finansial dengan Pioli, mengingat kontraknya harus diputus di tengah jalan. Pada musim panas lalu, Pioli menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun dengan gaji sekitar 3 juta euro, atau setara dengan hampir 60 miliar rupiah per musim, sebuah komitmen finansial besar yang kini harus ditanggung oleh klub di tengah krisis performa yang melanda.
Sumber: Tuttomercatoweb.com


