Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Saham Lapis Kedua: Rekomendasi & Potensi Cuan!

Saham Lapis Kedua: Rekomendasi & Potensi Cuan!

HIMBAUANJAKARTA. Menjelang penutupan tahun, perhatian para investor di pasar modal Indonesia kembali tertuju pada saham-saham lapis kedua, atau sering disebut sebagai second liner. Meskipun kerap menyuguhkan potensi imbal hasil yang menggiurkan dan daya tarik tersendiri, para investor diimbau untuk tetap mengedepankan kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi pada segmen saham ini. Prospek saham lapis kedua hingga penghujung tahun dan bahkan menjelang tahun 2026 mendatang menjadi topik hangat yang patut dicermati secara saksama.

Data terkini menunjukkan bahwa kinerja IDX SMC Composite, sebuah indeks yang menghimpun saham-saham lapis kedua, telah memperlihatkan pertumbuhan yang impresif. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir hingga Jumat (21/11/2025), indeks ini berhasil melonjak 6,83%, mencapai level 436,43. Capaian positif ini secara signifikan melampaui performa indeks-indeks utama lainnya. Sebagai perbandingan, indeks LQ45, yang berisi saham-saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi besar, hanya tumbuh 3,15% dalam periode yang sama, menembus level 845,68. Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), barometer utama pasar saham Indonesia, hanya mampu mencatatkan kenaikan 2,14% ke posisi 8.414,35. Dominasi kinerja saham lapis kedua ini jelas mencuri perhatian di tengah pergerakan pasar yang cenderung moderat.

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, agresivitas pergerakan saham lapis kedua dalam beberapa pekan terakhir didorong oleh tiga pilar utama. Pertama, adanya aliran likuiditas yang cukup deras menuju sektor-sektor tematik tertentu. Kedua, euforia yang menyertai berbagai aksi korporasi emiten, mulai dari akuisisi, merger, hingga penawaran saham baru. Ketiga, terjadinya rotasi dana yang bersifat sementara dari saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps pasca rebalancing indeks MSCI. Fenomena ini memicu investor untuk mencari peluang perolehan keuntungan atau “alpha” tambahan di luar daftar saham LQ45, sehingga minat terhadap saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil atau mid-small caps pun kian meningkat.

Kendati demikian, penting untuk dicatat bahwa lonjakan harga saham lapis kedua ini tidak selalu serta-merta merefleksikan fundamental kinerja emiten yang bersangkutan. Reza Diofanda menegaskan bahwa memang terdapat beberapa sektor yang menunjukkan performa keuangan yang relatif solid. Di antaranya adalah sektor komoditas dan barang dasar, terutama subsektor emas dan nikel, serta sektor agribisnis, khususnya kelapa sawit. Selain itu, beberapa emiten logistik yang dikenal efisien dan sejumlah emiten konsumer non-siklikal juga berhasil mencatatkan margin yang stabil dan sehat. Namun, di luar kelompok emiten yang memiliki fundamental kuat tersebut, mayoritas kenaikan harga saham lapis kedua lebih banyak digerakkan oleh faktor-faktor jangka pendek. Sentimen musiman, angin segar dari aksi korporasi, hingga perputaran dana yang bersifat sementara menjadi pendorong utama di balik pergerakan harga yang fluktuatif tersebut.

Menyambung proyeksi ke depan, Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memperkirakan bahwa kinerja saham-saham lapis kedua berpotensi tetap unggul dibandingkan dengan kategori saham lainnya. Optimisme ini didasarkan pada beberapa faktor krusial. Salah satunya adalah adanya rally positif yang kerap muncul menjelang akhir tahun, dikenal dengan fenomena Santa Claus. Selain itu, arus dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia cenderung tidak merata dan tidak sepenuhnya terserap oleh saham-saham big caps, sehingga sebagian mengalir ke segmen lapis kedua. Peningkatan aktivitas aksi korporasi di kalangan emiten juga turut menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham lapis kedua.

Coretax DJP: Serah Terima dari Vendor 15 Desember!

Meskipun demikian, untuk prospek tahun 2026 mendatang, Wafi tidak menutup kemungkinan terjadinya rotasi parsial dana yang dilakukan oleh para pelaku pasar kembali ke saham-saham berkapitalisasi besar. Skenario ini dapat terwujud jika kinerja sektor perbankan dan telekomunikasi berhasil menunjukkan pemulihan yang signifikan. Namun, saham-saham mid-small caps tetap memiliki daya tarik yang kuat untuk sektor-sektor tertentu yang prospektif. Sektor-sektor tersebut meliputi emas, nikel, pelayaran, industrial, pusat data atau data center, dan kendaraan listrik, yang diprediksi akan tetap menjadi magnet bagi investor.

Reza Diofanda menambahkan prediksinya bahwa tidak semua saham lapis kedua akan terus mencatat kenaikan seperti yang terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Apabila volatilitas global mengalami peningkatan dan suku bunga acuan mulai memasuki fase penurunan, investor secara alamiah akan cenderung menyeimbangkan kembali portofolio mereka. Pergeseran ini biasanya mengarah ke saham-saham blue chips yang dinilai lebih defensif dan stabil di tengah ketidakpastian. Terlebih lagi, sebagian saham lapis kedua telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sehingga valuasinya mulai terlihat kurang atraktif bagi investor yang mencari nilai. Situasi ini, menurut Reza, akan membuka peluang bagi terjadinya rotasi dana kembali ke saham-saham big caps, baik karena pertimbangan manajemen risiko maupun karena beberapa saham berkapitalisasi besar kini justru menawarkan potensi value play secara fundamental.

Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, juga sepakat bahwa penguatan saham-saham lapis kedua tetap terbuka lebar untuk tahun depan. Namun, ia menekankan bahwa para pelaku pasar kemungkinan akan bertindak lebih selektif dalam mengincar beberapa sektor spesifik. Sektor energi, barang material, dan konsumer diproyeksikan akan menjadi fokus utama, dengan tetap memantau berbagai faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja sektor-sektor tersebut di masa mendatang.

Bagi para investor yang tertarik untuk mengambil posisi di saham lapis kedua, Praska memberikan saran krusial. Ia mengingatkan pentingnya untuk selalu memantau likuiditas transaksi saham, menganalisis valuasi secara cermat, dan secara berkala memeriksa kinerja fundamental emiten yang bersangkutan. Selain itu, pergerakan aksi korporasi dan arus dana asing pada saham lapis kedua juga perlu dicermati dengan seksama sebagai indikator penting.

Berdasarkan analisisnya, Praska merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham lapis kedua yang dinilainya prospektif. Saham-saham tersebut antara lain PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dengan target harga Rp 1.100 per saham, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target harga Rp 1.200 per saham, dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) juga dengan target harga Rp 1.200 per saham. Tak hanya itu, saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga dinilai menarik dengan target harga di kisaran Rp 1.900 hingga Rp 2.000 per saham.

Pollux Hotels Terbitkan Obligasi Keberlanjutan Rp500 M

Di sisi lain, Reza Diofanda memberikan peringatan penting bagi investor. Ia menyarankan agar investor menghindari membeli saham lapis kedua ketika euforia pasar sedang memuncak, mengingat potensi risiko yang menyertainya. Disiplin dalam menggunakan metode cut loss atau trailing stop sangat ditekankan, mengingat volatilitas harga saham-saham penghuni IDX SMC Composite cenderung lebih tinggi dibandingkan saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45.

Reza juga membagikan rekomendasi saham yang dapat dipertimbangkan oleh investor. Saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) diprediksi memiliki target harga di kisaran Rp 270 hingga Rp 290 per saham. Selanjutnya, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 400 hingga Rp 480 per saham. Terakhir, saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) dengan target harga di kisaran Rp 160 hingga Rp 180 per saham, menjadi pilihan lain yang dapat dicermati oleh para investor yang berminat pada segmen saham lapis kedua. Dengan strategi yang tepat dan kehati-hatian, peluang keuntungan di segmen saham ini masih tetap terbuka lebar.

Sumber: MSN Indonesia

Facebook Comments Box

POPULER





Desember 2025
SSRKJSM
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031 
×
×