HIMBAUAN – 
Headline: Bagaimana Upaya Pencarian 49 Korban Runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Berlangsung di Hari Keenam?
Featured: True
Category: Berita Nasional, Bencana, Kemanusiaan, Jawa Timur
Tags With coma Seacara Otomatis: Sidoarjo, Pondok Pesantren Al Khoziny, Bangunan Roboh, BNPB, Korban Hilang, Pencarian Korban, Evakuasi, Identifikasi Jenazah, Letjen TNI Suharyanto, Manajemen Bencana, Buduran, Santri, Musibah, Tes DNA, RS Bhayangkara
Tragedi runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memasuki hari keenam pascakejadian. Tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur penanggulangan bencana masih bekerja keras mencari 49 korban yang dilaporkan hilang. Fokus utama upaya ini adalah pembersihan lokasi secara masif, guna memungkinkan alat berat mencapai titik reruntuhan dan melakukan evakuasi secara lebih efektif dan aman.
Bagaimana Kondisi Terkini Pencarian Korban Hilang di Ponpes Al Khoziny?
Saat ini, pencarian terhadap 49 korban insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny masih terus berlangsung. Letjen TNI Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada Sabtu, 4 Oktober 2025, menjelaskan bahwa tim gabungan telah mengidentifikasi keberadaan sejumlah korban di bawah reruntuhan. Pembersihan puing secara masif menjadi krusial untuk membuka akses bagi alat berat, sebuah prosedur standar dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) bencana struktural. Menurut panduan yang diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2022 mengenai Manajemen SAR Bencana Gempa Bumi dan Bangunan Runtuh, prioritas utama dalam fase awal adalah stabilisasi lokasi dan pembukaan jalur akses untuk mempermudah evakuasi dan identifikasi korban. Diharapkan dengan masuknya alat berat, tim dapat segera mengevakuasi seluruh korban yang teridentifikasi. Data menunjukkan, hingga Jumat, 5 Oktober 2025, tim gabungan telah menemukan 9 jenazah, dan jumlah ini bertambah menjadi 14 santri pada Sabtu, 6 Oktober 2025, setelah ditemukan satu jenazah tambahan. Seluruh jenazah yang ditemukan sedang menjalani proses identifikasi intensif.
Apa Tantangan Utama dalam Proses Identifikasi Jenazah Korban?
Proses identifikasi jenazah korban runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny menghadapi sejumlah tantangan signifikan yang memperlambat upaya pengembalian jenazah kepada keluarga. Salah satu kesulitan utama adalah banyak korban belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), yang menyulitkan pengenalan sidik jari. Ketiadaan data identitas primer ini mengharuskan tim menggunakan metode identifikasi lain yang lebih kompleks dan memakan waktu. Selain itu, kondisi jenazah juga banyak berubah. Alat berat baru bisa mengevakuasi reruntuhan secara optimal setelah tiga hari pascakejadian, yang menyebabkan jenazah terpapar lingkungan reruntuhan lebih lama. Paparan ini mengubah kondisi fisik jenazah, memperumit proses identifikasi visual dan sidik jari.
Tantangan dalam identifikasi korban, terutama ketiadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan kondisi jenazah yang telah berubah, sering terjadi dalam insiden bencana massal. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Forensik Indonesia pada tahun 2019, berjudul ‘Optimalisasi Proses Identifikasi Korban Bencana Massal di Indonesia’, menyoroti bahwa penggunaan metode alternatif seperti tes DNA menjadi sangat vital ketika data antemortem primer (seperti sidik jari dan rekam medis gigi) tidak tersedia atau tidak relevan akibat kondisi jenazah. Penelitian ini menunjukkan bahwa tes DNA memiliki tingkat akurasi hingga 99,9% dalam kondisi yang sulit, menjadikannya pilihan utama dalam situasi seperti ini. Oleh karena itu, BNPB dan tim forensik berencana menggunakan tes DNA untuk memastikan identitas korban secara akurat. Kepala BNPB mengimbau keluarga korban untuk menunggu informasi di RS Bhayangkara, yang menyediakan fasilitas dan logistik memadai untuk proses identifikasi dan penanganan korban.
Bagaimana Insiden Runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny Terjadi?
Insiden tragis runtuhnya bangunan empat lantai milik Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo terjadi pada Senin, 29 September 2025. Peristiwa ini terjadi saat ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah. Lantai dua bangunan tersebut difungsikan sebagai musala, tempat para santri beribadah. Tanpa diduga, struktur bangunan roboh secara tiba-tiba, menyebabkan banyak santri terjebak di bawah reruntuhan. Kejadian ini menimbulkan syok dan duka mendalam bagi seluruh komunitas pesantren dan masyarakat sekitar, memicu respons cepat dari tim SAR dan lembaga penanggulangan bencana. Investigasi mendalam akan diperlukan untuk memahami penyebab pasti dari keruntuhan bangunan ini, termasuk aspek kualitas konstruksi dan faktor-faktor struktural lainnya.
Berapa Total Dampak Bencana Runtuhnya Bangunan Ponpes Al Khoziny?
Tim gabungan terus menyisir lokasi kejadian untuk menemukan puluhan korban yang belum ditemukan. Berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh BNPB, jumlah korban terdampak secara keseluruhan mencapai 166 orang. Angka ini mencakup korban meninggal, luka-luka, dan mereka yang berhasil menyelamatkan diri namun mungkin mengalami trauma. Dalam perkembangan terakhir pada Sabtu, 6 Oktober 2025, petugas gabungan kembali menemukan satu jenazah, sehingga jumlah korban meninggal dunia saat ini mencapai 14 santri. Penemuan korban meninggal ini menambah daftar duka dan mempertegas urgensi upaya pencarian yang sedang berlangsung. Proses identifikasi dan evakuasi akan terus dilakukan hingga seluruh korban berhasil ditemukan dan identitasnya dipastikan, sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan dalam menghadapi musibah besar ini.
Tim gabungan masih berupaya keras di lapangan, menunjukkan komitmen tak henti untuk menemukan seluruh korban. Koordinasi antara berbagai pihak, mulai dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas, hingga relawan lokal, sangat vital dalam operasi sebesar ini. Setiap langkah pembersihan puing, setiap upaya identifikasi, dan setiap komunikasi dengan keluarga korban adalah bagian dari proses panjang pemulihan pascabencana. Seluruh elemen masyarakat diharapkan terus memberikan dukungan, baik moril maupun materil, demi kelancaran operasi dan pemulihan para korban serta keluarga yang terdampak.
Ervana Trikarinaputri berkontribusi dalam tulisan ini.
Sumber Eksternal: Pusat Informasi Penanggulangan Bencana


