
HIMBAUAN – Pelatih kepala Arema FC, Marcos Santos, akhirnya angkat bicara terkait insiden memanas yang mewarnai detik-detik akhir pertandingan melawan Persija Jakarta. Santos secara terang-terangan mengungkapkan bahwa kericuhan tersebut dipicu oleh ulah oknum ofisial tim tamu yang melontarkan makian verbal kepada pemainnya, Paulinho Moccelin, memancing reaksi keras dari jajaran pelatih dan ofisial Singo Edan.
Pertandingan sengit antara Arema FC kontra Persija Jakarta yang digelar di akhir pekan lalu berakhir diwarnai insiden kontroversial yang menyita perhatian publik. Atmosfer memanas mencapai puncaknya menjelang peluit panjang, tepatnya saat injury time babak kedua, ketika sejumlah pemain, ofisial, dan staf pelatih dari kedua kubu terlibat dalam keributan yang cukup serius. Insiden ini mencoreng esensi sportivitas yang seharusnya menjadi ruh dalam setiap laga sepak bola profesional.
Pemicu utama kekacauan ini tak lain adalah tekel keras yang dilancarkan oleh Paulinho Moccelin terhadap winger lincah Persija, Allano Lima. Insiden tersebut segera memicu reaksi berantai, diawali dengan protes keras dari Allano sendiri, yang kemudian disusul oleh respons emosional dari ofisial dan staf pelatih Macan Kemayoran, julukan Persija. Ketegangan pun tak terelakkan, menyebar cepat hingga melibatkan kubu tuan rumah, Arema FC, menciptakan situasi yang nyaris lepas kendali.
Marcos Santos, sebagai arsitek tim Singo Edan, menyatakan rasa penyesalannya yang mendalam atas keributan yang terjadi. Ia menegaskan bahwa pada awalnya, tim pelatih Arema FC sama sekali tidak berniat untuk terlibat dalam masalah yang lebih dalam. Bahkan, Santos secara pribadi turun tangan ke lapangan, berusaha keras melerai para pemainnya dengan tujuan agar pertandingan dapat segera dilanjutkan kembali dan fokus tetap pada upaya meraih hasil terbaik.
Kekacauan di Akhir Pertandingan, Pelatih Persija Murka
“Sebenarnya, saya pergi ke lapangan untuk membantu dan memisahkan tim kami, karena kami masih punya waktu untuk mencoba meraih hasil imbang di sisa waktu pertandingan,” ujar Santos menjelaskan niat awalnya dalam sesi jumpa pers pascalaga yang penuh ketegangan. Komitmennya terhadap jalannya laga yang kondusif terlihat jelas dari upayanya meredakan situasi.
Namun, situasi berubah drastis dan tak terkendali. “Tapi, dalam kejadian itu, saat saya mencoba mengeluarkan para pemain agar kami bisa kembali ke permainan lebih cepat, ada seorang anggota staf pelatih Persija yang memaki Paulinho, bahkan memaki para pemain kami,” tambahnya, dengan nada yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Kata-kata provokatif tersebut menjadi titik balik yang mengubah niat baiknya untuk melerai.
Mendengar dan menyaksikan langsung provokasi verbal tersebut, Marcos Santos tak dapat lagi menahan diri. Rasa tak terima yang memuncak memicu eskalasi keributan, yang berujung pada penundaan pertandingan selama beberapa menit krusial. Padahal, waktu tambahan yang tersisa masih cukup panjang, sekitar lima hingga tujuh menit, sebuah durasi yang berpotensi mengubah hasil akhir pertandingan, namun harus terbuang sia-sia karena insiden tersebut.
Bukan Cuma Jordi Amat dan Allano! Persija Jakarta Dipastikan Tanpa Mauricio Souza dan 2 Asistennya Lawan Persik
“Saya tidak bisa membiarkannya, saya tidak bisa menerimanya, saya tidak bisa membiarkan perilaku seperti itu karena kami adalah pendidik terlatih, dan perilaku seperti ini tidak dapat diterima dalam lingkungan profesional sepak bola,” tegas Santos dengan nada serius. “Jadi, baru pada saat itu saya tegur dia dan minta supaya dia tidak bersikap seperti itu.” Pernyataannya ini mencerminkan komitmen terhadap etika dan profesionalisme yang harus dijunjung tinggi dalam olahraga.
Kericuhan yang sempat membuat jalannya laga terhenti itu akhirnya mereda setelah wasit Yudi Nurcahya bertindak tegas untuk memulihkan ketertiban. Untuk memulihkan ketertiban, Yudi Nurcahya tak segan-segan mengeluarkan kartu kuning bagi Paulinho Moccelin dan Allano Lima, serta tiga kartu merah yang ditujukan kepada sejumlah ofisial dari kedua tim, sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan dalam menegakkan aturan.
Sanksi keras dari sang pengadil lapangan tersebut menimpa dua ofisial dari kubu Persija Jakarta, yaitu Gerson Rios yang menjabat sebagai pelatih kiper, dan Italo Resende sebagai asisten pelatih Macan Kemayoran. Sementara itu, satu kartu merah lainnya harus diterima oleh ofisial tim pelatih Arema FC, Andre Caldas Costa, yang merupakan asisten setia Marcos Santos. Keputusan ini menunjukkan bahwa pelanggaran etika dan provokasi tidak akan ditoleransi, baik oleh pemain maupun staf di pinggir lapangan.
Drama Keributan di Laga Arema FC vs Persija, Pelatih Mauricio Souza Berharap Sepak Bola Tetap Damai
Setelah meredanya ketegangan, Marcos Santos tak lupa menyampaikan permohonan maafnya yang tulus atas seluruh insiden yang telah mencoreng jalannya pertandingan. Baginya, insiden semacam itu sama sekali tidak seharusnya terjadi, terutama dalam sebuah duel penting dan penuh gengsi antara Arema FC dan Persija Jakarta, yang seharusnya menampilkan tontonan sepak bola berkualitas.
“Saya minta maaf kepada para penggemar atas kejadian yang terjadi. Kita seharusnya tidak bersikap seperti itu. Namun, terkadang itu memang bagian dari panasnya permainan,” ucapnya. Santos juga menambahkan, “Ini mungkin ‘darah Latin’ kami yang berbicara, mengingat banyaknya orang Brasil yang terlibat dalam permainan ini.” Ini merupakan sebuah pengakuan atas intensitas emosi yang seringkali meluap dalam sepak bola, namun bukan berarti pembenaran atas perilaku yang tidak pantas.
“Dan, akhirnya menjadi kejadian yang sangat disesalkan,” imbuh Santos. “Jadi, saya sekali lagi meminta maaf kepada para penggemar setia, kepada rekan-rekan pers, dan semua yang menyaksikan pertandingan ini di televisi. Insiden seperti ini tidak boleh terjadi lagi di masa mendatang.” Permintaan maaf ini menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas dan sportivitas dalam dunia sepak bola Tanah Air.


