HIMBAUAN – MORGAN Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global terkemuka, berencana untuk melakukan penyesuaian signifikan terhadap metode penghitungan free float atau saham yang benar-benar beredar bebas di pasar, khususnya untuk emiten-emiten di Indonesia. Wacana ini, yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi representasi pasar, memicu beragam pandangan dari para pakar dan pelaku pasar, di mana potensi keuntungan bagi transparansi pasar beriringan dengan risiko aliran modal keluar.
Nafan Aji Gusta, seorang Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti keunggulan fundamental dari langkah yang diusulkan MSCI ini. Menurutnya, penyesuaian tersebut akan menjadi pilar utama dalam menjamin transparansi serta kelancaran transaksi atau likuiditas saham di pasar modal Indonesia. “Keuntungan dinamika free float ini adalah supaya bobot saham dalam Indeks Indonesia benar-benar mencerminkan likuiditas yang riil di market,” jelas Nafan kepada Tempo, pada Selasa, 11 November 2025. Dengan kata lain, perubahan ini diharapkan dapat memastikan bahwa bobot suatu saham dalam indeks memang berdasarkan pada seberapa banyak saham tersebut aktif diperdagangkan oleh publik, bukan hanya yang dimiliki oleh pihak-pihak terkait.
Wacana mengenai penyesuaian metodologi ini pertama kali terungkap melalui dokumen resmi yang dirilis oleh MSCI pada bulan September 2025. Inti dari dokumen tersebut adalah pencarian cara oleh MSCI untuk mengkalkulasi free float saham-saham di Indonesia secara lebih akurat. Pendekatan baru ini akan memanfaatkan data kepemilikan saham yang dikelola oleh KSEI (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia). Alasan utama di balik perubahan ini adalah kurangnya detail pada data emiten yang tersedia saat ini, terutama untuk kepemilikan saham di bawah ambang batas 5 persen, yang dianggap krusial untuk mencerminkan kondisi likuiditas sebenarnya.
Nafan menambahkan bahwa penyesuaian ini berpotensi membuat proses seleksi emiten untuk masuk ke dalam indeks MSCI menjadi lebih ketat. Hal ini akan memastikan bahwa emiten yang terdaftar benar-benar merepresentasikan perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar dan memiliki tingkat likuiditas yang memadai. “Bukan hanya dipegang oleh para pemegang saham utama, tapi juga para pelaku investor para pelaku fund manager,” tegasnya, mengindikasikan bahwa indeks akan lebih merefleksikan saham yang aktif diperdagangkan oleh berbagai jenis investor, tidak hanya oleh pihak-pihak pengendali atau terafiliasi.
Namun, rencana ini tidak disambut baik oleh semua pihak. Sejumlah emiten telah menyatakan keberatan mereka terhadap langkah penyesuaian ini. Menanggapi hal tersebut, pada Senin pekan lalu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI (Bursa Efek Indonesia), Irvan Susandy, mengungkapkan bahwa BEI akan segera mengirimkan surat kepada MSCI sebagai upaya komunikasi dan penyampaian pandangan. Irvan juga menyebutkan bahwa beberapa perusahaan yang sahamnya tercatat dalam indeks MSCI sudah terlebih dahulu mengirimkan surat keberatan.
BEI berencana untuk secara spesifik meminta penjelasan mengapa rencana penyesuaian penghitungan ini hanya ditujukan kepada konstituen saham Indonesia. “Pertama, kami mempertanyakan kenapa itu hanya untuk Indonesia. Kedua, kita akan menjelaskan free float yang dimaksud dan data-data yang kita punya,” ujar Irvan, seperti dikutip dari Antara, Selasa 11 November 2025. Irvan juga menggarisbawahi adanya perbedaan data free float yang dirilis oleh KSEI dan data pengumuman free float dari masing-masing emiten, yang akan menjadi bagian dari penjelasan BEI kepada MSCI.
Pengamat Pasar Modal dari Panin Sekuritas, Reydi Octa, menduga bahwa alasan MSCI hanya melakukan penyesuaian untuk emiten-emiten di Indonesia adalah karena pasar saham domestik masih menghadapi tantangan dalam hal keseimbangan jumlah pelaku pasar yang aktif. Kondisi ini seringkali menyebabkan aktivitas jual-beli saham yang likuid belum mencapai tingkat ideal. “Namun, beberapa tahun belakangan muncul emiten-emiten big cap yang bisa masuk indeks global, sementara porsi kepemilikan saham didalamnya didominasi oleh pengendali,” ungkap Reydi kepada Tempo. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kapitalisasi pasar yang besar dengan ketersediaan saham yang benar-benar beredar bebas.
Reydi juga menambahkan bahwa beberapa analis global bahkan sempat menyatakan bahwa data free float yang tercatat di Indonesia tidak sepenuhnya mencerminkan likuiditas riil di pasar, atau seringkali merupakan bagian dari konsorsium atau grup holding tertentu. Dengan adanya penyesuaian free float ini, bobot emiten Indonesia dalam indeks MSCI kemungkinan besar akan mengalami perubahan, dengan kecenderungan penurunan karena seleksi menjadi semakin ketat. Risiko utama dari langkah ini, menurut Reydi, adalah potensi memicu aksi jual oleh investor, yang pada akhirnya dapat berujung pada aliran modal keluar atau outflow signifikan dari pasar saham Indonesia.
Lebih lanjut, Reydi menjelaskan bahwa jika proses seleksi terbaru ini mempersempit kandidat atau potensi emiten Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk masuk ke dalam MSCI, maka IHSG berisiko kehilangan momentum akumulasi asing dari aktivitas rebalancing MSCI di masa mendatang. Saham-saham yang diperkirakan akan paling terdampak adalah saham-saham yang kepemilikannya masih sangat terkonsentrasi pada pengendali atau pihak terafiliasi, serta saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar namun memiliki volume transaksi harian yang tipis. Dinamika ini menyoroti kompleksitas interaksi antara regulasi indeks global dan karakteristik pasar modal domestik.
Sumber: Detik Finance


