HIMBAUAN –
JAKARTA, KOMPAS.com – Pasar modal Asia Tenggara (ASEAN) menunjukkan geliat yang signifikan dalam penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana (IPO) pada tahun 2025. Total dana yang berhasil dihimpun dari aksi korporasi ini mencapai 5,6 miliar dollar AS, atau setara dengan Rp 93,86 triliun (dengan kurs Rp 16.761 per dollar AS), terhitung hingga tanggal 14 November 2025. Angka fantastis ini terungkap dalam laporan terbaru dari Deloitte Southeast Asia, yang menyoroti dinamika menarik di lanskap investasi regional.
Meskipun jumlah perusahaan yang melakukan IPO di kawasan ini tercatat sedikit menurun, nilai dana yang terkumpul justru melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran tren di mana pasar lebih memprioritaskan IPO dengan skala yang lebih besar, meskipun frekuensinya lebih rendah. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kualitas dan ukuran penawaran saham perdana yang menarik minat investor secara signifikan.
Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, menjelaskan secara terperinci kondisi pasar ini dalam sebuah konferensi pers daring mengenai tren IPO di ASEAN 2025, pada Selasa (18/11/2025). Menurutnya, selama 10,5 bulan pertama tahun 2025, tercatat ada 102 perusahaan yang melakukan IPO di seluruh Asia Tenggara. Dari jumlah tersebut, dana sebesar 5,6 miliar dollar AS berhasil dihimpun, dengan total kapitalisasi pasar mencapai 37,7 miliar dollar AS. Angka ini secara otomatis menjadi sorotan utama bagi investor dan pelaku pasar yang mencari peluang pertumbuhan di tengah fluktuasi ekonomi global.
Perbandingan data dengan tahun sebelumnya memperkuat narasi pemulihan dan pertumbuhan nilai investasi. Sepanjang tahun 2024, jumlah perusahaan yang mencatatkan saham perdana memang sedikit lebih banyak, yaitu 106 perusahaan. Namun, penghimpunan dananya hanya mencapai 3,7 miliar dollar AS, dengan kapitalisasi pasar sebesar 19,1 miliar dollar AS. “Pada halaman ini Anda dapat melihat perbandingan bahwa pada tahun lalu, yaitu 2024, terdapat 106 IPO yang menghasilkan 3,7 miliar dollar AS dengan kapitalisasi pasar 19,1 miliar dollar AS,” papar Tay Hwee Ling, menggarisbawahi lonjakan nilai yang signifikan pada tahun 2025.
Peningkatan total dana yang dihimpun pada tahun 2025 secara jelas menunjukkan bahwa ukuran rata-rata setiap IPO pada tahun ini cenderung lebih besar dibandingkan tahun 2024. Kondisi ini, menurut Tay, merupakan tanda pemulihan yang kuat dari sisi nilai penghimpunan dana dan kapitalisasi pasar, meskipun jumlah IPO secara keseluruhan menurun sejak tahun 2023. Pergeseran fokus ke penawaran yang lebih substansial ini menandai kematangan pasar modal regional.
Tren positif ini semakin terlihat jelas saat memasuki paruh kedua tahun 2025, yang menjadi periode paling aktif. Sepanjang semester II-2025 hingga 14 November, sebanyak 49 perusahaan melakukan IPO dan berhasil mengumpulkan dana senilai 4,2 miliar dollar AS. Jumlah ini jauh melampaui capaian semester I-2025, di mana 53 IPO hanya menghasilkan 1,4 miliar dollar AS. “Untuk semester I terdapat 53 IPO yang menghasilkan 1,4 miliar dollar AS. Untuk semester II hingga 14 November 2025, terdapat 49 IPO yang menghasilkan 4,2 miliar dollar AS,” terang Tay, menunjukkan dominasi penghimpunan dana pada paruh kedua tahun berjalan.
Secara rata-rata, penghimpunan dana per IPO pada tahun 2025 berada di kisaran 55 juta dollar AS. Angka ini secara signifikan melampaui rata-rata tahun lalu yang hanya mencapai 27 juta dollar AS. “Jika kita melihat data secara sederhana, fundraising per IPO tahun ini rata-rata sekitar 55 juta dollar AS, sedangkan tahun lalu hanya sekitar 27 juta dollar AS. Namun kita semua tahu bahwa secara umum ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi angka ini,” lanjut Tay, menjelaskan bahwa beberapa faktor besar turut berkontribusi pada lonjakan tersebut.
Salah satu faktor pendorong utama lonjakan nilai penghimpunan dana di kawasan adalah keberadaan empat “blockbuster IPO”, yaitu penawaran umum perdana yang berhasil menghimpun dana lebih dari 500 juta dollar AS. Selain itu, peningkatan jumlah IPO dengan kapitalisasi pasar besar juga turut menjadi elemen kunci dalam kesuksesan ini. Kondisi pasar yang kondusif untuk perusahaan-perusahaan skala besar semakin memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai destinasi investasi yang menarik.
Laporan Deloitte juga menyoroti adanya pergeseran konsentrasi pasar IPO di Asia Tenggara. Singapura, Malaysia, dan Vietnam kini muncul sebagai tiga negara dengan kontribusi terbesar, secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga dari total aktivitas IPO sepanjang tahun 2025. Masing-masing negara menunjukkan karakteristik unik dalam mendorong pertumbuhan ini.
Di Singapura, berbagai kebijakan proaktif dari regulator seperti Monetary Authority of Singapore (MAS) telah mendorong peningkatan ukuran IPO. Negara kota ini mencatat penghimpunan dana IPO sekitar 1,6 miliar dollar AS, yang secara historis menjadi yang tertinggi sejak tahun 2019. Kebijakan yang mendukung dan ekosistem investasi yang matang menjadikan Singapura magnet bagi penawaran saham perdana skala besar.
Vietnam juga berhasil mencuri perhatian di pasar modal regional. Negara ini mencatatkan kemunculan dua IPO besar dari sektor jasa keuangan, setelah beberapa tahun sebelumnya minim aksi korporasi skala besar. Kebangkitan ini menunjukkan potensi pertumbuhan pasar Vietnam yang semakin menjanjikan.
Sementara itu, Malaysia tetap mempertahankan posisinya sebagai negara dengan jumlah IPO terbanyak, yakni 48 perusahaan. Meskipun tidak mencapai tingkat historisnya, jumlah ini menegaskan konsistensi pasar modal Malaysia dalam memfasilitasi perusahaan untuk melantai di bursa.
Indonesia, meskipun merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, mengikutinya dengan 24 IPO. Namun, jumlah ini masih jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata historis lima hingga sepuluh tahun terakhir. Kondisi ini menantang pelaku pasar dan regulator di Indonesia untuk terus meningkatkan daya tarik pasar modalnya agar dapat bersaing lebih kuat di kancah regional.
Secara keseluruhan, data dan analisis Deloitte menggarisbawahi bahwa meskipun jumlah IPO mungkin berfluktuasi, kualitas dan ukuran penawaran perdana menjadi penentu utama dalam volume penghimpunan dana. Tren pada tahun 2025 menunjukkan bahwa pasar modal Asia Tenggara semakin matang dan selektif, dengan kemampuan untuk menarik investasi besar yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi regional.
Sumber: Kompas.com


