HIMBAUAN – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang kurang bergairah pada sesi pertama perdagangan Rabu, 29 Oktober 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau masih tertekan di zona merah, merefleksikan sentimen pasar yang cenderung hati-hati.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh RTI, IHSG mencatat koreksi tipis sebesar 0,07% atau kehilangan 6,05 poin, sehingga berakhir di level 8.086,58 pada penutupan sesi pertama. Pergerakan pasar diwarnai oleh dominasi saham yang melemah, di mana sebanyak 326 saham bergerak turun, sementara 316 saham berhasil menguat, dan 164 saham lainnya stagnan tanpa perubahan signifikan.
Tekanan terhadap laju IHSG terutama datang dari enam indeks sektor yang mengalami penurunan. Sektor-sektor yang paling membebani langkah indeks adalah IDX-Industry yang terkoreksi paling dalam sebesar 1,04%. Disusul oleh IDX-Techno yang turun 0,53%, dan IDX-Property dengan pelemahan 0,44%. Penurunan di sektor-sektor kunci ini mengindikasikan adanya aksi jual di saham-saham unggulan yang memiliki kapitalisasi pasar besar.
Rupiah Melemah ke Rp 16.626 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (29/10), Peso Melonjak
Di antara saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, beberapa nama mencatatkan penurunan signifikan. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi salah satu yang paling terpukul dengan koreksi 3,85% ke level Rp 2.000. Kemudian, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga ikut melemah 3,53% menjadi Rp 3.280, serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang turun 2% ke harga Rp 7.350.
Laba Bersih Elnusa (ELSA) Berkurang 4,48% per Kuartal III-2025
Namun, di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham LQ45 justru menunjukkan performa cemerlang dan menjadi penopang pasar. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memimpin penguatan dengan melonjak 10,60% mencapai Rp 2.400. Kinerja impresif juga ditunjukkan oleh PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang naik 8,40% ke Rp 1.935, serta PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang menguat 4,53% menuju Rp 2.540.
Meski Penjualan Lemah, Ultrajaya (ULTJ) Raih Kenaikan Laba per Kuartal III-2025

Bursa Asia Bervariasi, Nikkei Cetak Rekor Tertinggi
Kontras dengan dinamika di bursa domestik, pasar saham Asia secara keseluruhan bergerak bervariasi pada hari Rabu (29/10). Salah satu sorotan utama adalah kinerja luar biasa dari Indeks Nikkei 225 Jepang yang melonjak lebih dari 1% dan berhasil menembus rekor tertinggi baru di atas 51.000 poin. Pencapaian ini menandai tonggak sejarah bagi pasar modal Jepang.
Lonjakan kuat Nikkei dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, optimisme pasar terhadap hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang yang semakin erat. Kedua, ekspektasi yang tinggi terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
IHSG Turun di Awal Perdagangan Rabu (29/10), Bursa Asia Menghijau Didukung Euforia AI
Peningkatan kepercayaan pasar ini bertepatan setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menandatangani kerangka kerja sama baru terkait mineral tanah jarang (rare earths) pada hari Selasa (28/10). Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah positif yang dapat memperkuat ikatan ekonomi kedua negara dan mengurangi potensi hambatan perdagangan.
Para pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang hampir 100% bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Spekulasi ini muncul menyusul langkah serupa yang telah dilakukan The Fed pada September lalu, sebagai upaya untuk menopang pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Louis Navellier, seorang investor senior, menyoroti pentingnya sikap The Fed dalam menentukan arah pasar. “Jika (Ketua Fed) Jerome Powell bersikap dovish, maka spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan akan meningkat dan memberi dorongan baru pada momentum pasar,” tulis Navellier dalam catatannya.
Sementara itu, lembaga riset GeoQuant di bawah Fitch Solutions memberikan pandangan mengenai arah kebijakan Jepang. Mereka menilai pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi akan mengarahkan Partai Demokrat Liberal (LDP) ke kebijakan ekonomi yang lebih liberal, namun tetap konservatif secara sosial, serta lebih tegas dalam isu keamanan nasional. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai stabilitas dan arah ekonomi Jepang ke depan.
Laba Bersih Bukalapak (BUKA) Melonjak Jadi Rp 2,4 Triliun di Kuartal III 2025
Di luar Jepang, pergerakan bursa Asia menunjukkan tren yang beragam. Indeks Topix Jepang bergerak relatif datar, tidak menunjukkan perubahan signifikan. Pasar Korea Selatan juga mencatat performa bervariasi, di mana Indeks Kospi naik tipis 0,17%, sementara Indeks Kosdaq justru turun 0,25%.
Dari Australia, Indeks S&P/ASX 200 terpantau melemah 0,16%. Pelemahan ini terjadi setelah data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) di Australia naik 3,2% pada kuartal III, mencapai kenaikan tertinggi dalam lebih dari satu tahun dan melampaui proyeksi ekonom sebesar 3%. Kenaikan inflasi ini dapat memicu kekhawatiran akan potensi pengetatan kebijakan moneter.
Di wilayah Tiongkok daratan, Indeks CSI 300 berhasil menguat 0,37%. Namun, bursa saham Hong Kong masih ditutup pada hari yang sama karena adanya libur nasional.


