HIMBAUAN, Jakarta, 18 Maret 2025 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan sesi pertama, IHSG tercatat anjlok 5,02% atau setara 325,034 poin ke level 6.146,913. Kondisi ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan mekanisme trading halt sesuai aturan darurat pasar modal.
Mengapa IHSG Bisa Anjlok Tajam?
Data dari RTI pada pukul 11.19 WIB menunjukkan, tekanan jual mendominasi pasar dengan 541 saham melemah, 95 saham menguat, dan 158 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,4 triliun dengan volume 13,5 miliar saham. Situasi tersebut mencerminkan kepanikan investor di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Menurut pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, lonjakan aksi jual sering dipicu kombinasi faktor eksternal, seperti gejolak ekonomi global, serta faktor internal, termasuk kebijakan moneter dan politik domestik.
BEI Aktifkan Trading Halt
Berdasarkan siaran pers resmi BEI, penghentian sementara perdagangan dilakukan pada pukul 11.19 WIB dan dibuka kembali pukul 11.49 WIB. Mekanisme ini merujuk pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00024/BEI/03-2020 yang mengatur langkah bursa dalam kondisi darurat.
Trading halt diterapkan sebagai upaya menahan kepanikan investor, sehingga pasar memiliki waktu untuk menilai ulang strategi. Studi dari Universitas Indonesia menegaskan, penghentian perdagangan mampu mengurangi volatilitas ekstrem yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Aturan Trading Halt dan Trading Suspend
Mengacu pada kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada tiga level intervensi pasar:
Trading halt selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 5%.
Trading halt tambahan 30 menit bila penurunan mencapai 10%.
Trading suspend apabila IHSG terperosok lebih dari 15%, bahkan bisa berlanjut hingga akhir perdagangan.
Menurut penjelasan OJK, perbedaan mendasar antara trading halt dan trading suspend terletak pada sistem order. Dalam trading halt, pesanan beli atau jual tetap tersimpan dan bisa diubah. Namun dalam trading suspend, seluruh order otomatis dibatalkan oleh sistem.
Tekanan Pasar Belum Mereda
Hingga pukul 12.10 WIB, IHSG masih mencatat koreksi lebih dalam, yaitu 6,06%. Tekanan jual belum menunjukkan tanda-tanda berkurang, sehingga investor diminta untuk lebih berhati-hati.
Analis dari Universitas Gadjah Mada menilai, periode volatilitas ekstrem ini sebaiknya dihadapi dengan strategi defensif, termasuk diversifikasi portofolio dan pengalihan dana ke aset aman seperti emas atau obligasi.
Apa yang Perlu Dilakukan Investor?
BEI menekankan agar pelaku pasar tidak panik. Berikut beberapa langkah bijak bagi investor:
Tetap tenang. Jangan buru-buru melepas saham tanpa analisis.
Cari penyebab utama. Teliti faktor global maupun domestik yang memicu aksi jual.
Diversifikasi aset. Jika pasar masih labil, kurangi risiko dengan membagi portofolio ke instrumen lain.
Kesimpulan
Penerapan trading halt oleh BEI pada 18 Maret 2025 menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghadapi tekanan luar biasa. Kebijakan ini bukan sekadar penghentian teknis, melainkan instrumen penting untuk menjaga keteraturan perdagangan. Bagi investor, momen ini harus dijadikan kesempatan untuk menilai kembali strategi investasi, bukan alasan untuk bertindak emosional.


