
HIMBAUAN – Dunia sepak bola Indonesia kembali diwarnai dinamika menarik, kali ini melibatkan nama Eliano Reijnders, winger Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia. Sosok yang dikenal dengan ketenangan dan profesionalismenya ini memilih untuk tidak menambah panas api kontroversi yang disulut oleh pernyataan mantan penerjemah Shin Tae-yong, Jeong Seok-seo.
Beberapa waktu terakhir, nama Eliano Reijnders memang menjadi sorotan publik. Hal ini bermula dari pengakuan Jeong Seok-seo, yang akrab disapa Jeje, dalam sebuah siniar (podcast). Jeje secara mengejutkan mengungkapkan bahwa pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, sempat menyayangkan keputusannya memainkan adik dari gelandang AC Milan, Tijjani Reijnders. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pemerhati sepak bola.
Fakta menunjukkan, dari total tujuh penampilan Eliano Reijnders bersama skuad Garuda, memang hanya satu di antaranya yang terjadi pada era kepelatihan Shin Tae-yong. Ini menjadi poin penting yang disoroti oleh Jeje dalam pernyataannya, seolah menguatkan klaim mengenai penyesalan sang pelatih asal Korea Selatan tersebut.
Tak pelak, pengakuan Jeje tersebut memantik respons negatif yang meluas. Banyak pihak menilai bahwa ia telah menyudutkan Eliano Reijnders sekaligus membocorkan situasi internal ruang ganti timnas, sebuah tindakan yang dianggap melanggar etika profesionalisme. Tekanan publik yang kuat akhirnya membuat Jeong Seok-seo menyampaikan permohonan maaf melalui kanal pribadinya. Namun, dampak dari perkataannya sudah terlanjur menyebar luas dan menjadi topik hangat.
Kecaman paling tegas datang dari Bojan Hodak, pelatih kepala Persib Bandung. Hodak tidak menyembunyikan kemarahannya atas komentar Jeje, secara eksplisit menyinggung profesi penerjemah yang dinilainya telah melampaui batas kewenangannya. “Saya baca ada penerjemah yang bicara hal tidak benar atau omong kosong tentang dia,” ujar Hodak, menyoroti informasi yang beredar.
Bagi Hodak, Eliano Reijnders adalah pemain berdedikasi dan serbaguna. “Dia datang ke sini, bisa bermain di banyak posisi, dan selalu tampil bagus,” tambah Hodak, membela kualitas anak asuhnya. Pelatih asal Kroasia itu kemudian menegaskan pentingnya setiap individu untuk tetap fokus pada tugas utamanya. “Jadi, beberapa orang sebaiknya tetap fokus pada pekerjaan mereka yaitu menerjemahkan, bukan berbicara soal sepak bola, karena itu urusan para ahli, bukan penerjemah,” tegas Bojan Hodak dengan nada geram, menggarisbawahi perbedaan peran antara seorang penerjemah dan seorang ahli sepak bola.
Di tengah kegaduhan dan amarah yang ditunjukkan oleh sang pelatih, reaksi Eliano Reijnders justru sangat kontras. Pemain berusia 25 tahun itu menunjukkan kedewasaan dan ketenangan, memilih untuk tidak memperpanjang polemik dengan Jeong Seok-seo. “Saya tidak mau berbicara apa pun mengenai itu,” ujar Reijnders, seperti dikutip dari BolaSport.com yang bersumber dari Kompas.com, link sumber. Ia menegaskan prioritasnya yang jelas: “Saya hanya ingin menunjukkan diri saya sendiri dan fokus untuk Persib. Jadi apa yang saat ini sedang terjadi, saya tidak peduli,” lanjutnya, menyoroti komitmen penuhnya terhadap karier dan klubnya saat ini.
Penampilan Reijnders bersama Persib Bandung memang patut diacungi jempol. Produk akademi PEC Zwolle ini telah delapan kali tampil di semua ajang kompetisi, menunjukkan adaptasi yang cepat dan kontribusi signifikan. Dari delapan laga tersebut, ia turut mempersembahkan lima kemenangan, satu hasil imbang, dan hanya satu kekalahan. Lebih impresif lagi, saat ditugaskan sebagai bek kanan maupun bek kiri, Eliano Reijnders berhasil membantu timnya mencatatkan lima clean sheet. Data ini secara gamblang menunjukkan betapa pentingnya peran Reijnders dalam menjaga stabilitas pertahanan dan performa tim, ironisnya saat ia tidak lagi di bawah arahan Shin Tae-yong. Ini seolah menjadi bantahan tak langsung terhadap kritik yang sebelumnya dilontarkan oleh Jeje.
Sikap profesionalisme Eliano Reijnders yang memilih fokus pada lapangan hijau, alih-alih larut dalam drama di luar lapangan, menjadi teladan penting. Ia membuktikan bahwa kinerja nyata dan konsistensi adalah jawaban terbaik untuk setiap spekulasi atau kritik yang muncul, menjaga nama baiknya serta reputasi Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia dari riuhnya perdebatan yang tak perlu.


