Pada Sabtu pagi, 20 September 2025, pukul 06.49 WIT, Gunung Dukono di Halmahera, Maluku Utara, mengalami erupsi signifikan. Peristiwa ini memicu semburan kolom abu vulkanik setinggi 800 meter dari puncak kawahnya. Berdasarkan catatan, letusan tersebut memiliki amplitudo maksimum 7 milimeter dengan durasi mencapai 83,34 detik.
Petugas pos pengamatan Gunung Dukono, Bambang Sugiono, melaporkan dalam rilis resmi pasca-kejadian bahwa “Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut.” Pernyataan ini memberikan gambaran visual mengenai dampak awal erupsi, yang menunjukkan sebaran material vulkanik bergerak menjauhi area kawah utama.
Menyikapi aktivitas gunung api yang terjadi, status Gunung Dukono tetap berada pada Level II, atau Waspada. Status ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas gunung api dan mengharuskan masyarakat untuk tetap waspada. Oleh karena itu, warga lokal, pendaki, maupun wisatawan dilarang keras mendekati area dalam radius empat kilometer dari puncak Kawah Malupang dan Warirang. Larangan ini berlaku untuk semua aktivitas, termasuk pendakian dan mendirikan tenda untuk bermalam di wilayah terlarang tersebut.
Fenomena letusan dengan abu vulkanik dari Gunung Dukono, yang memiliki ketinggian 1.087 meter di atas permukaan laut (mdpl), bersifat periodik. Hal ini menyebabkan sebaran abu tidak menetap pada satu lokasi. Bambang Sugiono menjelaskan, “Area landaan abunya tidak tetap,” karena arah dan kecepatan angin secara dinamis mempengaruhi pergerakan material vulkanik di atmosfer. Perubahan arah angin dapat menyebabkan abu jatuh di wilayah yang berbeda dari waktu ke waktu.
Badan Geologi, melalui petugas pos pengamatan, merekomendasikan masyarakat sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut. Penggunaan alat pelindung diri ini krusial untuk meminimalkan risiko kerusakan pada sistem pernapasan akibat paparan abu vulkanik. Mengingat partikel halus dalam abu dapat berbahaya jika terhirup, langkah pencegahan ini menjadi sangat vital bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di area terdampak.
Aktivitas Gunung Dukono memang menunjukkan intensitas yang tinggi dan berkelanjutan. Tercatat, gunung ini telah mengalami dua kali erupsi dalam sepekan terakhir. Bahkan, akumulasi letusan sejak Januari 2025 telah mencapai 498 kali. Data ini menempatkan Gunung Dukono sebagai gunung api ke-4 teraktif di Indonesia, setelah Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-Laki. Pola aktivitas yang berkelanjutan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan jangka panjang dan kesiapsiagaan masyarakat serta otoritas terkait.
Pilihan Editor: Bagaimana Tambang Meningkatkan Kasus ISPA di Weda Tengah
HIMBAUAN: Tetap Waspada dan Ikuti Petunjuk Resmi
Masyarakat di sekitar wilayah Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara, serta para pengunjung diharapkan untuk senantiasa mematuhi setiap arahan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi dan otoritas setempat. Informasi terkini dan langkah mitigasi dapat diakses melalui situs resmi Badan Geologi atau pos pengamatan Gunung Dukono terdekat. Keselamatan dan kesehatan adalah prioritas utama dalam menghadapi aktivitas gunung api yang dinamis.


