HIMBAUAN –
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) secara resmi mengumumkan pembatalan rencana strategisnya untuk mengalihkan sejumlah besar aset, termasuk pesawat, pesawat tidak terpakai (unused pesawat), serta aset bernilai rendah (Low Value Asset/LVA) dan perangkat unit muat (Unit Load Device/ULD). Awalnya, rencana pemindahtanganan dan penghapusbukuan aset yang mencakup 50 persen dari jumlah kekayaan bersih perseroan ini diagendakan untuk diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 12 November 2025.
Keputusan penting untuk membatalkan mata acara penghapusbukuan ini diambil setelah maskapai penerbangan nasional tersebut berhasil mengantongi dana segar yang signifikan. Dana sebesar Rp 23,67 triliun tersebut berasal dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), sebuah langkah yang secara fundamental mengubah proyeksi keuangan perseroan dan memberikan angin segar bagi kinerja Garuda Indonesia.
Andreas Tumpal H. Hutapea, Vice President Corporate Secretary Group Head Garuda Indonesia, menjelaskan bahwa penyertaan modal melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau yang dikenal dengan private placement ini telah berhasil membuat ekuitas Garuda Indonesia kembali positif. “Proyeksi ekuitas perseroan setelah PTMHMETD akan menjadi positif, sehingga pelaksanaan pemindahtanganan dan penghapusbukuan aset-aset yang sebelumnya direncanakan untuk dibahas dalam mata acara kedua tidak mencapai 50 persen dari kekayaan bersih perseroan dan tidak memerlukan persetujuan RUPS,” tegas Andreas dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, dikutip pada Kamis, 20 November 2025.
Perubahan status ekuitas ini menjadi titik balik krusial bagi GIAA. Dengan ekuitas positif, ketentuan yang mewajibkan persetujuan RUPS untuk pemindahtanganan aset yang melebihi batas tertentu tidak lagi berlaku, meniadakan kebutuhan akan pembahasan agenda tersebut di RUPSLB yang telah dijadwalkan. Hal ini menunjukkan dampak langsung dari suntikan penambahan modal terhadap kondisi keuangan dan tata kelola perusahaan.
Menanggapi kabar baik ini, Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menyatakan bahwa penambahan modal ini akan memberikan dampak positif yang besar terhadap penguatan operasional perseroan. “Dengan permodalan yang lebih kuat, kami dapat memperkokoh keandalan operasional, meningkatkan kesiapan armada dan menghadirkan pelayanan penerbangan yang modern dan andal bagi masyarakat,” ujar Glenny dalam keterangan tertulisnya yang dirilis pada Kamis, 13 November 2025.
Glenny Kairupan juga menambahkan bahwa suntikan modal ini merupakan bagian integral dari kelanjutan program penyehatan dan transformasi yang telah dijalankan Garuda Indonesia. Program ini diinisiasi pasca-restrukturisasi utang besar-besaran yang pernah dihadapi perseroan beberapa tahun silam. Dengan fondasi permodalan yang lebih kokoh, maskapai pelat merah ini berencana untuk memperkuat struktur keuangan internalnya, meningkatkan kesiapan armada secara signifikan, serta mempercepat proses transformasi operasional. Inisiatif transformasi ini tidak hanya berfokus pada Garuda Indonesia sendiri, tetapi juga mencakup anak usahanya, Citilink, untuk memastikan sinergi dan efisiensi di seluruh lini bisnis.
Perincian alokasi dana segar senilai Rp 23,67 triliun dari Danantara menunjukkan pembagian yang strategis. Sekitar Rp 8,7 triliun, yang setara dengan 37 persen dari total dana, akan dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia. Dana ini esensial untuk mendukung berbagai aspek operasional inti, termasuk perawatan dan pemeliharaan pesawat yang merupakan komponen krusial dalam menjaga standar keselamatan dan keandalan penerbangan maskapai.
Sementara itu, porsi terbesar, yakni sebesar Rp 14,9 triliun atau 63 persen dari total dana, akan diarahkan untuk mendukung operasional anak usaha, Citilink. Dana untuk Citilink ini dibagi lagi menjadi dua pos utama: Rp 11,2 triliun akan digunakan sebagai modal kerja untuk menunjang aktivitas operasional harian dan pengembangan bisnis. Sisanya, sebesar Rp 3,7 triliun, dialokasikan secara spesifik untuk pelunasan kewajiban pembayaran bahan bakar kepada Pertamina yang terakumulasi selama periode 2019 hingga 2021. Alokasi ini menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan beban masa lalu sembari membangun fondasi yang lebih stabil untuk masa depan Citilink dalam mendukung ekspansi dan efisiensi operasional.
Langkah strategis ini menandai babak baru bagi Garuda Indonesia dalam upaya menjaga keberlanjutan bisnis dan meningkatkan daya saing di industri penerbangan nasional maupun internasional. Dengan ekuitas positif dan dukungan permodalan yang kuat, Garuda Indonesia berambisi untuk terus memberikan pelayanan terbaik serta memperkuat posisinya sebagai maskapai kebanggaan nasional yang modern dan andal.
Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Mengapa Keuangan Garuda Indonesia Boncos Terus


