Olahraga
Beranda / Olahraga / Di Canio Geram: AC Milan Inkonsisten di Serie A!

Di Canio Geram: AC Milan Inkonsisten di Serie A!

HIMBAUANMantan striker kawakan Eropa, Paolo Di Canio, secara tegas menyoroti inkonsistensi yang melanda AC Milan di ajang Serie A. Menurut analisisnya, performa Rossoneri yang kerap naik turun belakangan ini merupakan indikasi kuat betapa krusialnya peran keseimbangan taktis, disiplin tim, serta kontribusi vital dari pemain kunci seperti Adrien Rabiot dalam menjaga stabilitas klub. Di Canio berargumen bahwa tanpa elemen-elemen tersebut, Milan kesulitan menemukan irama terbaiknya.

Berbicara dalam siaran langsung Sky Sport 24, sosok yang pernah malang melintang di berbagai liga top Eropa ini menyatakan bahwa AC Milan seolah kehilangan esensi kolektivitas yang menjadi kekuatan utama mereka di awal musim. Menurutnya, kegagalan Milan dalam mempertahankan keunggulan kolektif inilah yang menjadi akar permasalahan performa mereka saat ini.

“Absennya sejumlah pemain kunci karena cedera benar-benar menjadi faktor penentu kemerosotan kualitas AC Milan,” ungkap Di Canio. Ia melanjutkan, “Sejak pertandingan melawan Cremonese, Milan sejatinya menunjukkan peningkatan signifikan. Kala itu, sebelas pemain berlari, menekan lawan, menjaga keseimbangan, dan disiplin di lapangan.” Di Canio kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan filosofi permainan Manchester City. “Sama seperti Manchester City, ketika mereka berhasil menemukan kembali kualitas serangan mereka, pertahanan mereka secara otomatis juga membaik. Milan kala itu menyerang sebagai sebuah tim yang utuh dan tidak kebobolan satu gol pun dalam beberapa pertandingan sebelumnya.”

Namun, gambaran itu kini telah berubah drastis. Di Canio menyoroti statistik terbaru Rossoneri. “Dalam lima pertandingan terakhir, Milan memang mampu mencetak delapan gol, namun ironisnya, mereka juga kebobolan enam gol. Ini menunjukkan adanya kerapuhan di lini belakang,” jelasnya. Ia juga mengkritisi performa individu yang tidak optimal. “Jika Anda hanya terus menunggu (Rafael) Leao berlari sendirian, ia tidak akan memberikan titik acuan yang jelas bagi tim, dan terkadang malah terlihat berjalan tanpa tujuan. Tanpa bantuan Rabiot, dari mana datangnya gol-gol tersebut?” tandas Di Canio dengan nada skeptis.

Bagi Di Canio, permasalahan yang membelit Rossoneri di bawah asuhan Massimiliano Allegri – yang disebutkan dalam analisisnya – lebih bersifat struktural ketimbang individual. Kekuatan inti AC Milan, menurutnya, bersumber dari etos kerja kolektif dan sinergi antarpemain. Tanpa keseimbangan strategis yang secara spesifik Di Canio sebut diciptakan oleh kehadiran Adrien Rabiot, tim yang bermarkas di San Siro itu menjadi mudah terbaca dan kehilangan daya kejutnya di lapangan.

Erick Thohir: Industri Olahraga Jadi Mesin Ekonomi Baru?

“Leao harus selalu bermain, dia adalah pemain paling berbakat yang dimiliki Milan. Akan tetapi, jika Milan bermain tanpa Rabiot di sisi lapangan, ini akan menjadi masalah besar,” tegas mantan striker legendaris West Ham United tersebut.

Analisis mendalam dari pesepak bola kelahiran Roma ini memang merefleksikan kekhawatiran yang lebih luas terkait evolusi taktis klub. Di Canio secara implisit menyatakan bahwa kesulitan yang dialami Rossoneri tidak berasal dari minimnya kualitas individu para pemain, melainkan lebih pada hilangnya sinergi dan kekompakan tim secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Di Canio juga menyinggung hilangnya peran Rabiot yang dianggapnya penuh pengalaman dalam tim. Kekosongan ini disebut harus digantikan oleh Samuele Ricci, yang menurut Di Canio, tampil kurang menjanjikan sebagai pelengkap Luka Modric dan Youssouf Fofana di lini tengah lapangan. Penilaian ini semakin mempertegas pandangan Di Canio mengenai kurangnya elemen kunci yang mampu menjaga keseimbangan di jantung permainan Milan.

Meskipun dalam 10 pertandingan terakhir di kompetisi domestik AC Milan belum merasakan kekalahan, namun serangkaian hasil imbang yang terus menerus didapatkan telah menjadi penghalang serius bagi mereka untuk bersaing memperebutkan puncak klasemen. Inkonsistensi ini membuat mereka kesulitan menggeser para rival di posisi atas.

Untuk sementara waktu, Leao dan rekan-rekannya harus puas bertengger di posisi ketiga klasemen sementara Serie A dengan koleksi 22 poin. Jumlah poin ini sama dengan yang dimiliki Napoli di peringkat keempat, di mana Milan hanya unggul dalam selisih gol. Namun, celah dengan dua pemuncak klasemen, AS Roma dan Inter Milan, yang sama-sama mengumpulkan 24 poin, hanya terpaut dua angka. Ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di papan atas Serie A dan betapa setiap poin sangat berarti dalam perburuan gelar juara.

Rivan Nurmulki: Ancaman Indonesia di SEA Games 2025?

Facebook Comments Box

POPULER





Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
×
×