HIMBAUAN – Fenomena aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai jumbo tengah menjadi sorotan utama di kalangan pelaku pasar modal Indonesia. Sejumlah emiten besar secara aktif melaksanakan program buyback ini dalam beberapa waktu terakhir, sebuah langkah strategis yang menurut para analis mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan serta kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham yang dinilai masih di bawah harga wajarnya. Tren ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberikan sinyal positif yang kuat bagi dinamika pasar saham secara keseluruhan.
Gelombang buyback saham ini bukan tanpa alasan. Para emiten yang terlibat, yang mayoritas merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar, menunjukkan posisi kas yang sangat solid. Kondisi keuangan yang prima ini memungkinkan mereka untuk mengalokasikan dana signifikan untuk membeli kembali saham mereka di bursa, tanpa mengganggu likuiditas operasional ataupun rencana ekspansi jangka panjang. Selain itu, keyakinan bahwa harga saham saat ini belum sepenuhnya merefleksikan nilai fundamental dan prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan menjadi motor penggerak utama di balik keputusan buyback ini.
Emiten-Emiten Raksasa di Balik Tren Buyback
Salah satu emiten terkemuka yang mengambil bagian dalam gelombang buyback ini adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Perusahaan batu bara raksasa ini telah mengantongi persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk melakukan pembelian kembali sahamnya senilai fantastis, mencapai Rp 2,49 triliun. Keputusan ini secara eksplisit disampaikan oleh manajemen ITMG, yang menyatakan bahwa harga saham mereka di pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan nilai fundamental dan potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan yang sesungguhnya.
“Pembelian saham kembali ini direncanakan akan dieksekusi melalui Bursa Efek Indonesia, yang dapat dilakukan secara bertahap ataupun sekaligus. Proses ini ditargetkan untuk diselesaikan paling lambat 12 bulan sejak tanggal RUPS Luar Biasa (RUPSLB) diselenggarakan,” demikian keterangan resmi manajemen ITMG pada Selasa, 4 November 2025. Langkah ini menunjukkan komitmen ITMG untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan menstabilkan harga di tengah kondisi pasar.
Tidak hanya ITMG, konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) juga turut meramaikan tren ini dengan mengumumkan rencana buyback saham senilai maksimal Rp 2 triliun. Program ini dirancang dengan batasan yang jelas, yaitu tidak akan melebihi 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor, serta tetap menjaga porsi saham publik (free float) agar tidak kurang dari 7,5 persen. Aksi buyback ASII dijadwalkan berlangsung sejak 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026, mencerminkan optimisme manajemen terhadap prospek perusahaan.
Anak usaha ASII, yaitu PT United Tractors Tbk (UNTR), tidak ketinggalan. Perusahaan alat berat dan pertambangan ini juga berencana melakukan buyback dengan alokasi dana maksimal Rp 2 triliun. Periode pelaksanaan buyback UNTR dimulai lebih awal, yakni dari 31 Oktober 2025 hingga 30 Januari 2026. Sinergi antara induk dan anak usaha dalam melakukan buyback menunjukkan konsolidasi strategi untuk memperkuat valuasi grup.
Dari sektor perbankan, raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga tidak absen dari daftar emiten yang melakukan aksi korporasi ini. BBCA telah menyiapkan dana melimpah hingga Rp 5 triliun untuk program buyback sahamnya. Proses pembelian kembali saham BBCA dijadwalkan berlangsung dari 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026, menegaskan posisi BBCA sebagai bank dengan fundamental yang sangat kuat dan likuiditas yang melimpah.
Buyback: Sebuah Sinyal Kepercayaan Manajemen Emiten
Para analis pasar modal memandang maraknya aksi buyback saham ini sebagai indikator yang multidimensional dan positif. Reza Diofanda, seorang Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menginterpretasikan tren ini sebagai kombinasi harmonis dari beberapa faktor krusial. Menurutnya, ini adalah cerminan dari fundamental emiten yang kuat, valuasi saham yang undervalued (di bawah nilai wajar), serta posisi kas yang sangat solid.
“Neraca keuangan yang sehat secara fundamental memberikan ruang gerak yang leluasa bagi emiten untuk melaksanakan program buyback tanpa perlu khawatir mengganggu stabilitas arus kas operasional maupun mengorbankan rencana ekspansi strategis perusahaan di masa mendatang,” jelas Reza pada Jumat, 7 November 2025. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa aksi buyback seringkali dimanfaatkan secara strategis oleh manajemen sebagai sinyal kepercayaan yang kuat terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Ini sekaligus merupakan upaya proaktif untuk menjaga stabilitas harga saham, terutama di tengah potensi pelemahan likuiditas pasar yang mungkin terjadi.
Senada dengan pandangan tersebut, Muhammad Wafi, Analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), turut menggarisbawahi bahwa mayoritas emiten memutuskan untuk melakukan buyback karena mereka meyakini valuasi sahamnya sudah berada di bawah nilai intrinsik atau nilai wajarnya. Kondisi ini, ditambah dengan tingkat likuiditas pasar yang cukup tinggi, menjadikan buyback sebagai langkah yang sangat strategis. Ini tidak hanya bertujuan untuk memanfaatkan harga yang menarik, tetapi juga untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas indeks yang kerap melanda pasar.
Dampak Buyback bagi Investor: Peluang dan Kepercayaan
Dalam perspektif jangka pendek, aksi buyback umumnya memberikan dampak positif yang signifikan bagi emiten itu sendiri. Salah satu efek paling nyata adalah peningkatan sentimen pasar. Investor cenderung merespons positif ketika manajemen perusahaan menunjukkan kepercayaan diri melalui pembelian kembali saham. Selain itu, dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar di pasar, secara matematis nilai earning per share (EPS) atau laba per saham akan meningkat, yang seringkali menjadi metrik penting bagi investor. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa buyback juga akan menurunkan kas perusahaan. Namun, bagi emiten-emiten besar dengan cadangan kas melimpah, penurunan ini cenderung tidak signifikan dan mudah diatasi.
Bagi para investor, aksi buyback membawa pesan yang sangat penting. “Bagi investor, buyback ini secara fundamental menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari manajemen emiten terhadap masa depan perusahaan mereka sendiri. Oleh karena itu, momentum ini dapat menjadi sinyal yang kuat bagi investor untuk melakukan akumulasi saham, dengan keyakinan pada prospek jangka panjang,” papar Wafi.
Reza Diofanda menambahkan bahwa aksi buyback memberikan dua efek utama yang sangat relevan bagi investor. Pertama, aksi ini secara substansial memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek jangka panjang emiten yang bersangkutan. Ini mengindikasikan bahwa manajemen melihat nilai yang belum terefleksi dan berani mengambil tindakan untuk menunjukkannya. Kedua, dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar, secara otomatis akan meningkatkan nilai kepemilikan per saham bagi setiap investor yang memegang saham tersebut.
“Namun, penting untuk diingat bahwa efek langsung buyback terhadap harga saham tidak selalu signifikan dan instan. Dampaknya sangat bergantung pada beberapa faktor krusial, seperti skala program buyback yang dilakukan, kondisi pasar secara keseluruhan, serta keberlanjutan kinerja fundamental emiten di masa mendatang,” jelas Reza, memberikan perspektif yang lebih hati-hati kepada investor.
Prediksi Tren Buyback Akan Berlanjut
Reza Diofanda memprediksi bahwa tren pembelian kembali saham ini akan terus berlanjut hingga awal tahun depan. Beberapa faktor pendorong utama yang mendukung perkiraan ini meliputi posisi keuangan emiten yang masih sangat kuat, volatilitas pasar yang cenderung tinggi, serta kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini memberikan fleksibilitas lebih besar untuk aksi buyback, bahkan tanpa memerlukan persetujuan RUPS dalam kondisi tertentu.
Ia secara spesifik menyebut beberapa sektor yang berpotensi tetap aktif dalam program buyback ini. Sektor-sektor tersebut antara lain perbankan, otomotif dan alat berat, komoditas energi, serta konsumer primer. Sebagai bagian dari rekomendasinya, Reza menyarankan saham-saham seperti BBCA, UNTR, dan ASII dengan target harga masing-masing sebesar Rp 10.500, Rp 29.600, dan Rp 6.700 per saham. Namun, ia menyarankan investor untuk melakukan pembelian secara bertahap, bukan semata-mata karena euforia buyback, mengingat efeknya pada harga saham cenderung lebih terasa dalam jangka pendek.
Senada dengan pandangan tersebut, Muhammad Wafi dari KISI juga meyakini bahwa tren buyback akan terus berlangsung hingga awal tahun 2026. Prediksi ini semakin menguat apabila kondisi volatilitas pasar masih tinggi dan valuasi saham-saham blue chip masih diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya. Menurut Wafi, saham-saham seperti BBCA, ASII, UNTR, dan ITMG masih sangat menarik untuk dikoleksi secara bertahap. Ia memberikan target harga masing-masing sebesar Rp 10.000 untuk BBCA, Rp 6.800 untuk ASII, Rp 28.000 untuk UNTR, dan Rp 25.000 untuk ITMG.
Secara keseluruhan, gelombang buyback saham bernilai jumbo ini tidak hanya mencerminkan fundamental emiten yang kokoh dan valuasi yang menarik, tetapi juga mengirimkan sinyal kepercayaan yang kuat dari manajemen kepada pasar. Bagi investor, ini adalah momen penting untuk mencermati prospek jangka panjang perusahaan dan potensi peningkatan nilai investasi, meskipun tetap disarankan untuk berinvestasi dengan pertimbangan matang dan strategi akumulasi yang terukur.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Aksi Buyback Saham Bernilai Jumbo Marak, Ini Dampaknya bagi Investor


