Ekonomi
Beranda / Ekonomi / BBCA Anjlok! Harga Terendah 2025, Saatnya Beli?

BBCA Anjlok! Harga Terendah 2025, Saatnya Beli?

HIMBAUAN.

Mengapa Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Tertekan Meski Profitabilitasnya Unggul?

Di tengah dinamika pasar modal yang penuh tantangan, sektor perbankan seringkali menjadi barometer kesehatan ekonomi. Namun, sebuah fenomena menarik terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), salah satu pilar perbankan di Indonesia. Meskipun fundamental BCA menunjukkan profitabilitas yang jauh lebih baik dibandingkan para kompetitornya, pergerakan harga sahamnya justru terus mengalami tekanan. Analisis ini mengungkap paradoks antara kinerja keuangan yang solid dan sentimen pasar yang berhati-hati.

Bagaimana Kinerja Laba Bersih Bank Central Asia (BCA) Hingga Agustus 2025?

Pada delapan bulan pertama tahun 2025, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil membukukan laba bersih bank only yang impresif. Data per Agustus 2025 menunjukkan bahwa laba bersih BCA mencapai Rp 39,06 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan yang signifikan, yakni sebesar 8,52% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana laba bersih tercatat sebesar Rp 35,99 triliun. Pencapaian ini menegaskan efisiensi operasional dan kekuatan fundamental BCA di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Coretax DJP: Serah Terima dari Vendor 15 Desember!

Bagaimana Perbandingan Kinerja Laba BCA dengan Bank-Bank Besar Lainnya?

Berbeda dengan pertumbuhan positif yang dicatatkan BCA, bank-bank besar (big banks) lainnya di Indonesia menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga profitabilitas. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) seluruhnya melaporkan penurunan laba bersih year-on-year (YoY) lebih dari 5% pada periode yang sama. Secara spesifik, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami penurunan laba paling dalam, mencapai 9,9% YoY, dengan laba bersih per Agustus 2025 sebesar Rp 32,6 triliun. Data ini menyoroti perbedaan ketahanan fundamental BCA dibandingkan rekan-rekannya di sektor yang sama.

Kinerja Saham Big Banks Sesi I Selasa (30/9): BBCA Tertekan, BMRI Menguat

Mengapa Saham BCA Melemah Meskipun Fundamentalnya Kuat?

Kekuatan fundamental BCA sayangnya tidak sepenuhnya tercermin dalam pergerakan harga sahamnya di pasar modal. Pada perdagangan Rabu, 1 Oktober 2025, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini ditutup melemah pada level Rp 7.500 per saham. Harga penutupan ini menjadi yang terendah sepanjang tahun 2025, menciptakan sebuah paradoks antara kinerja internal perusahaan yang cemerlang dan performa saham di bursa.

Pollux Hotels Terbitkan Obligasi Keberlanjutan Rp500 M

Seberapa Besar Koreksi Saham BCA Sepanjang Tahun 2025?

Sepanjang tahun 2025, saham BCA telah mengalami koreksi yang cukup signifikan, mencapai sekitar 22,48%. Penurunan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya mengakomodasi kinerja positif yang ditunjukkan BCA. Sebagai perbandingan, koreksi saham BBCA sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan saham “big banks” lainnya seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dalam periode yang sama turun sekitar 23,16%. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa sektor perbankan secara umum menghadapi tekanan jual yang kuat di pasar.

Bagaimana Pakar Melihat Kondisi Fundamental BCA di Tengah Tekanan Pasar?

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memberikan perspektif mengenai situasi ini. Menurutnya, kinerja fundamental dari BCA memang masih terbilang aman. Namun, ia juga menyatakan bahwa saat ini kinerja tersebut sedang diuji oleh kondisi ekonomi makro yang sedang kurang stabil. Pandangan ini menguatkan bahwa faktor eksternal seringkali memiliki dampak signifikan pada pergerakan harga saham, bahkan untuk perusahaan dengan fundamental yang kokoh sekalipun.

Saham Big Banks Bergerak Variatif Sesi I Senin (29/9), BBCA Pimpin Kenaikan

Wall Street Reli: Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga?

Faktor Apa yang Mendorong Penurunan Saham Perbankan dan BCA?

Lebih lanjut, Nico Demus mengidentifikasi adanya relokasi sektor investasi sebagai salah satu pemicu tekanan pada saham perbankan. Para pelaku pasar dan investor saat ini memiliki ekspektasi yang jauh lebih rendah terhadap saham BBCA. Kondisi ini terjadi meskipun secara fundamental BCA memiliki prospek yang baik, termasuk potensi valuasi yang menarik di masa mendatang. Investor kini cenderung mencari keuntungan di sektor-sektor lain yang dianggap lebih atraktif, menyebabkan aliran dana keluar dari saham-saham bank seperti BCA.

Kapan Potensi Penguatan Harga Saham BBCA Dapat Terwujud?

Meskipun menghadapi tekanan, Nico Demus optimistis mengenai prospek jangka panjang saham BCA. Ia menilai bahwa penurunan harga saham BCA saat ini hanyalah “masalah waktu.” Dengan demikian, ia memprediksi adanya potensi kuat bagi harga BBCA untuk kembali menguat di masa yang akan datang. Pandangan ini memberikan harapan bagi investor yang memegang saham BCA, menunjukkan bahwa volatilitas saat ini mungkin bersifat sementara dan tidak mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.

Tags: Headline,Featured,Ekonomi,Investasi,Saham,Perbankan,Bank Central Asia,BBCA,Bank Mandiri,BMRI,Bank Rakyat Indonesia,BBRI,Bank Negara Indonesia,BBNI,Analisis Saham,Koreksi Saham,Laba Bersih,Pasar Modal,Fundamental Bank,Pilarmas Investindo Sekuritas,Maximilianus Nico Demus
{{category:Ekonomi, Investasi}}

IHSG Sentuh 8.600! Menkeu: Mantap, To The Moon!

Facebook Comments Box

POPULER





Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
×
×