Olahraga
Beranda / Olahraga / Vincent Kompany: Legenda Man City yang Tak Terlupakan

Vincent Kompany: Legenda Man City yang Tak Terlupakan

HIMBAUAN

Dalam sebuah langkah mengejutkan yang menandai kepercayaan penuh terhadap visinya, manajemen Bayern Munich secara resmi memperpanjang kontrak pelatih Vincent Kompany hingga Juni 2029. Keputusan ini, yang diumumkan secara senyap sebelum laga krusial Liga Champions melawan Club Brugge, mengukuhkan Kompany sebagai arsitek jangka panjang proyek ambisius Die Roten, hanya satu setengah musim setelah kedatangannya yang awalnya disambut dengan keraguan.

Perpanjangan kontrak ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah validasi atas kinerja impresif Kompany yang berhasil membawa Bayern kembali ke jalur juara dan membangun fondasi tim yang solid. Ini juga menjadi bukti bahwa Kompany adalah pelatih pertama dalam satu dekade terakhir yang mendapatkan tawaran perpanjangan masa bakti dari klub Bavaria tersebut, sebuah indikasi kuat akan kepuasan manajemen terhadap progres yang ditunjukkan.

Kisah kepelatihan Vincent Kompany di Allianz Arena dimulai pada medio 2024, di tengah periode yang penuh turbulensi bagi Bayern Munich. Saat itu, raksasa Bundesliga tersebut baru saja mengakhiri kerja sama dengan pelatih Thomas Tuchel, setelah mengalami musim 2023-2024 tanpa meraih satu gelar pun. Sebuah anomali yang belum pernah terjadi selama sebelas tahun terakhir bagi klub sebesar Bayern.

Dominasi mereka di Bundesliga harus direlakan setelah Bayer Leverkusen, di bawah asuhan Xabi Alonso, berhasil merebut takhta dengan performa gemilang. Di kancah Eropa, perjalanan Bayern di Liga Champions harus terhenti secara dramatis di babak semifinal, setelah takluk dari Real Madrid dengan agregat tipis yang menyisakan kekecewaan mendalam.

Spoiler One Piece 1167 Konflik Elbaph Memanas, Loki Mengamuk Usai Ida Diracun

Menanggapi situasi krusial ini, jajaran manajemen Bayern yang dipimpin oleh Max Eberl, Jan-Christian Dreesen, dan Christoph Freund segera bergerak cepat. Mereka menyusun daftar pendek nama-nama pelatih papan atas yang berpotensi mengisi kursi panas tersebut. Deretan nama besar muncul dalam daftar incaran, termasuk Julian Nagelsmann, Hansi Flick, Massimiliano Allegri, Oliver Glasner, Roberto De Zerbi, hingga Jose Mourinho.

Dua nama pertama, Nagelsmann dan Flick, yang notabene pernah melatih Bayern sebelumnya, menjadi kandidat terkuat dan prioritas utama manajemen. Ekspektasi untuk mendapatkan salah satu dari mereka begitu tinggi. Namun, realitas berkata lain. Harapan yang membumbung tinggi berubah menjadi kepanikan saat Bayern menghadapi serangkaian penolakan dari para pelatih potensial yang mereka dekati.

Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak pihak mengindikasikan bahwa reputasi Bayern yang kerap melakukan pergantian pelatih dalam waktu singkat menjadi faktor utama. Sejak tahun 2020 saja, Bayern sudah berganti pelatih sebanyak tiga kali. Situasi ini disinyalir membuat banyak pelatih merasa skeptis untuk mengambil alih kendali, khawatir tidak akan mendapatkan keleluasaan dan waktu yang cukup untuk membangun tim sesuai filosofi permainan mereka. Secara logis, permintaan jaminan ruang dan waktu untuk mengimplementasikan visi mereka adalah hal yang wajar bagi setiap pelatih profesional.

Setelah periode pencarian yang intens dan penuh tantangan, Bayern akhirnya berhasil menemukan pelatih baru. Sosok yang mereka tunjuk sontak mengejutkan banyak pihak, termasuk para penggemar Die Roten: Vincent Kompany.

Legenda Manchester City dan Tim Nasional Belgia itu menandatangani kontrak awal berdurasi dua tahun. Sebagai pemain, reputasi Kompany sebagai bek tangguh dan kapten yang dihormati, baik di dalam maupun di luar lapangan hingga pensiun pada 2019, tidak perlu diragukan. Namun, sebagai pelatih, banyak suara yang menilai Kompany “belum teruji” untuk memimpin klub sekaliber Bayern Munich.

Hitung Weton Jodoh: Rahasia Pernikahan Langgeng?

Sebelum bergabung dengan Bayern, Kompany memulai karier kepelatihannya di klub masa kecilnya, Anderlecht, awalnya sebagai pemain-pelatih sebelum diangkat menjadi pelatih penuh hingga tahun 2022. Ia kemudian kembali ke Inggris untuk melatih Burnley. Di bawah asuhannya, Burnley sukses meraih trofi Championship dan memastikan promosi ke Premier League untuk musim 2023-2024. Namun, perjalanan Burnley di Premier League tidak berjalan mulus. Skuad asuhan Kompany kesulitan menjaga ritme dan irama permainan di kasta tertinggi, yang membuat mereka finis di posisi ke-19 klasemen akhir dan akhirnya kembali terdegradasi ke divisi Championship.

Dengan catatan rekam jejak tersebut, keputusan Bayern merekrut Kompany boleh dibilang merupakan sebuah pertaruhan besar terhadap masa depan klub. Beberapa pengamat bahkan menyebutnya sebagai langkah “terpaksa” Bayern setelah gagal mendapatkan target utama mereka. Namun, Max Eberl, selaku anggota dewan Bayern bidang olahraga dan teknik, dengan yakin mengatakan bahwa manajemen melihat “sesuatu” yang menjanjikan dari Kompany, serta keyakinan bahwa ia akan sangat cocok dengan sistem dan kultur yang ada di Bayern.

Kompany sendiri menyadari bahwa melatih klub sebesar Bayern jauh berbeda dengan menukangi Burnley atau Anderlecht. Ia memahami betul ekspektasi tinggi yang diemban dan keraguan banyak pihak mengenai kesiapannya. Dalam konferensi pers perkenalannya, Kompany memberikan pernyataan tegas yang mencerminkan mentalitasnya: “Apakah Anda akan berhenti mempercayai diri Anda sendiri dan apa yang bisa Anda capai hanya karena apa yang orang-orang katakan?” Kalimat ini seolah menegaskan determinasi kuat Kompany, baik sebagai pemain maupun pelatih, bahwa ia siap membuktikan dirinya layak menghadapi tantangan yang lebih besar.

Setelah itu, Kompany resmi memulai babak baru dalam kariernya sebagai pelatih Die Roten.

Dari segi taktik, Kompany dikenal mengedepankan filosofi penguasaan bola dan membangun serangan dari belakang (build-up play) yang dikombinasikan dengan pressing agresif. Formasi yang ia gunakan pun sangat fleksibel, biasanya dimulai dengan formasi dasar 4-2-3-1 yang kemudian dapat melebur menjadi 3-5-2 atau 2-3-5 saat transisi menyerang maupun bertahan. Dengan struktur taktik yang adaptif ini, Kompany menginginkan setiap pemain memiliki kebebasan untuk berotasi dan berganti posisi, guna menciptakan keuntungan jumlah pemain saat transisi serta leluasa mengeksploitasi celah pertahanan lawan.

Coretax DJP: Serah Terima dari Vendor 15 Desember!

Di sisi psikologis, Kompany selalu menekankan pentingnya determinasi dan intensitas tinggi dalam setiap sesi latihan, dengan tujuan menanamkan mental juara pada para pemain. Selain itu, Kompany juga dikenal sebagai pelatih yang sangat komunikatif dan terbuka terhadap semua pemain, termasuk pemain rotasi dan pemain muda. Pendekatan ini berhasil membangun ikatan kekeluargaan yang kuat di dalam tim, membuat setiap individu merasa dirangkul dan dihargai.

Musim pertamanya di Bayern (2024/2025) terbilang cukup sukses. Kompany berhasil membawa Bayern kembali menjuarai Bundesliga dengan mengumpulkan 82 poin, hasil dari 25 kemenangan, 7 imbang, dan hanya 2 kekalahan dari 34 pertandingan. Harry Kane dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak liga dengan 26 gol, berhak membawa pulang penghargaan Torjägerkanone.

Namun, di kompetisi DFB Pokal, langkah Bayern harus terhenti di babak 16 besar setelah disingkirkan oleh rival berat mereka, Bayer Leverkusen. Sementara di Liga Champions, Kompany sukses membawa Bayern Munich melaju hingga perempat final, sebelum takluk dari Inter Milan dengan agregat ketat 4-3 dalam dua leg pertandingan. Setelah mengakhiri musim reguler dengan satu trofi Bundesliga, Kompany kemudian memimpin Bayern di turnamen Piala Dunia Antarklub yang berlangsung di Amerika Serikat. Namun, perjalanan mereka berakhir di fase perempat final, dikalahkan oleh Paris Saint-Germain 2-0.

Secara keseluruhan, musim pertama Kompany di Bayern menunjukkan peningkatan signifikan dalam permainan tim dan berhasil mengembalikan gelar Bundesliga ke Allianz Arena, sebuah capaian yang patut diacungi jempol.

Memasuki persiapan musim baru 2025/2026, Bayern bergerak cepat di bursa transfer dengan mendatangkan sejumlah pemain berkualitas seperti Luis Diaz, Jonatan Tah, dan Tom Bischof. Tantangan juga muncul dengan cederanya Jamal Musiala dan Alphonso Davies, memaksa Kompany untuk berinovasi memaksimalkan potensi skuad yang ada, termasuk mengangkat pemain-pemain muda Bayern ke skuad utama.

Erick Thohir: Industri Olahraga Jadi Mesin Ekonomi Baru?

Setelah menjalani pramusim yang menjanjikan, Bayern mengawali perjalanan musim baru mereka dengan manis, berhasil merengkuh trofi Piala Franz Beckenbauer (sebelumnya DFL Super Cup) usai mengalahkan Stuttgart dengan skor meyakinkan 3-1.

Di Bundesliga, performa Bayern sejauh ini begitu dominan, masih mencatat rekor tak terkalahkan atau tanpa hasil imbang sama sekali. Terbaru, mereka berhasil mengalahkan telak Borussia Monchengladbach yang diperkuat pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks, dengan skor 3-0, dan juga memenangi laga sengit Der Klassiker melawan Dortmund dengan skor 2-1. Hasil ini membuat Bayern bertengger kokoh di puncak klasemen dengan raihan 24 poin, unggul lima poin dari rival terdekat mereka, RB Leipzig, yang berada di peringkat kedua.

Selain di Bundesliga, Bayern juga masih meraih hasil sempurna dalam perjalanan Liga Champions mereka musim ini, menyapu bersih kemenangan di tiga laga awal melawan Chelsea, Pafos, dan Club Brugge. Meskipun demikian, mereka akan menghadapi ujian berat melawan Paris Saint-Germain pada 5 November dan Arsenal pada 27 November mendatang.

Di DFB Pokal, Bayern sejauh ini baru meraih satu kemenangan setelah mengalahkan klub divisi tiga, Wehen Wiesbaden, di ronde pertama dengan skor 3-2. Terdekat, mereka akan menghadapi FC Köln pada 30 Oktober mendatang.

Rangkaian hasil impresif ini menjadikan Die Roten satu-satunya tim di seluruh Eropa yang masih mencatat rekor kemenangan 100 persen, dengan 13 kemenangan beruntun, sebuah pencapaian yang menyamai rekor impresif AC Milan pada tahun 1992. Bayern tentunya berambisi untuk memperpanjang rekor fantastis ini selama mungkin.

Mengenai rekor, Vincent Kompany tetap tenang dan menegaskan bahwa ia dan timnya hanya berfokus pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Ia tidak terlalu memusingkan angka-angka statistik, menekankan bahwa setiap pertandingan adalah sangat penting dan rekor adalah bonus semata dari kerja keras tim.

Kepercayaan dan kenyamanan pemain terhadap kepemimpinan Kompany, baik di dalam maupun di luar lapangan, juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan tim.

Perpanjangan kontrak Kompany yang dilakukan secara senyap, mengindikasikan strategi manajemen untuk “membentengi” sang pelatih dari potensi dibajak klub rival, terutama mengingat nama Kompany santer dikaitkan dengan rumor potensi kepindahannya ke Manchester City pada tahun 2027. Ini adalah langkah proaktif Bayern untuk mengamankan stabilitas masa depan mereka.

Dengan fondasi yang semakin kokoh dan performa yang terus menanjak, patut dinantikan bagaimana kiprah Vincent Kompany dan Bayern Munich selanjutnya dalam perjalanan mereka memburu trofi mayor musim ini dan di tahun-tahun mendatang.

Facebook Comments Box

POPULER





Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
×
×