Ekonomi
Beranda / Ekonomi / IHSG Ambles! BRPT, SCMA, MEDC Terpuruk

IHSG Ambles! BRPT, SCMA, MEDC Terpuruk

HIMBAUAN – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan perdagangan dengan sentimen negatif yang kuat, berbalik arah secara drastis dan terjun hampir 3% pada sesi pertama, Senin (27/10/2025). Penurunan signifikan ini terjadi di tengah fenomena kontras, di mana mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan kinerja positif dan kompak menghijau.

Berdasarkan data yang dirilis oleh RTI, IHSG terperosok 2,94%, kehilangan 243,38 poin, sehingga menutup sesi di level 8.028,34. Kelesuan pasar modal Indonesia sangat terasa, tercermin dari dominasi saham-saham yang melemah; sebanyak 550 saham harus merelakan sebagian nilainya. Sementara itu, hanya 150 saham yang berhasil menguat, dan 107 saham lainnya stagnan tanpa perubahan berarti. Kondisi ini menggambarkan tekanan jual yang meluas dan sentimen negatif yang kuat di kalangan investor domestik.

Volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi pertama tercatat cukup tinggi, mencapai 24,1 miliar saham, dengan nilai transaksi fantastis sebesar Rp 17,8 triliun. Angka volume dan nilai transaksi yang besar pada hari penurunan ini sering kali diinterpretasikan sebagai indikasi adanya aksi jual yang masif, menandakan investor bergegas melepas kepemilikan saham mereka di tengah kekhawatiran yang membayangi pasar.

Di tengah melemahnya IHSG, nilai tukar rupiah juga menunjukkan sinyal pelemahan. Rupiah terpantau melemah ke level Rp 16.630 per dolar Amerika Serikat (AS) pada siang hari yang sama. Gerak pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren pelemahan mata uang lainnya di kawasan, di mana peso Filipina bahkan dilaporkan mengalami penurunan paling dalam. Kombinasi pelemahan indeks saham dan mata uang sering kali mengindikasikan adanya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi makro di Indonesia.

Tekanan jual tidak hanya terpusat pada beberapa saham tertentu, namun merata di seluruh sektor. Seluruh 11 indeks sektoral yang tercatat di BEI kompak melemah, secara signifikan menyeret langkah IHSG. Penurunan terdalam dialami oleh IDX-Property yang anjlok 4,53%, diikuti oleh IDX-Energy yang terkoreksi 4,45%, dan IDX-Industry yang melemah 3,76%. Meratanya penurunan di berbagai sektor ini menunjukkan bahwa sentimen negatif telah mengakar kuat di pasar, tidak pandang bulu terhadap jenis industri.

Spoiler One Piece 1167 Konflik Elbaph Memanas, Loki Mengamuk Usai Ida Diracun

Saham-saham papan atas yang menjadi tulang punggung indeks, khususnya yang tergabung dalam LQ45, juga tak luput dari hantaman. Beberapa di antaranya menjadi top losers dengan penurunan yang cukup dalam, mencerminkan kerentanan saham-saham berkapitalisasi besar terhadap tekanan pasar. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memimpin daftar pelemahan dengan anjlok 12,36% ke level Rp 3.190. Disusul oleh PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang turun 7,51% menjadi Rp 320, dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang terkoreksi 5,09% ke Rp 1.305. Pelemahan saham-saham ini secara signifikan berkontribusi terhadap anjloknya IHSG.

Meskipun demikian, di tengah badai merah yang melanda pasar saham, beberapa saham LQ45 mampu menunjukkan ketahanan dan bahkan mencatatkan penguatan, bertindak sebagai penopang agar indeks tidak terjatuh lebih dalam lagi. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil memimpin penguatan dengan melonjak 9,09% ke level Rp 2.760. Kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang naik 3,80% ke Rp 1.365, serta PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang menguat 3,17% menjadi Rp 650. Kenaikan saham-saham ini memberikan sedikit oase di tengah gempuran aksi jual yang mendominasi pasar.

Bursa Asia Menguat Dipimpin Nikkei dan Kospi

Berbanding terbalik dengan kondisi pasar saham Indonesia, bursa saham di kawasan Asia justru bergerak positif dan optimistis. Indeks Nikkei 225 Jepang mencatatkan sejarah baru dengan menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya, melonjak lebih dari 2%. Diikuti oleh Topix yang juga menguat 1,61%. Lonjakan ini memicu euforia di pasar Jepang, menandai momentum pertumbuhan yang kuat.

Kenaikan bursa Asia ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Optimisme pasar terhadap kemajuan pembicaraan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi sentimen pendorong utama. Harapan akan tercapainya kesepakatan yang mengakhiri ketegangan dagang telah menumbuhkan harapan akan stabilitas ekonomi global. Selain itu, momentum positif dari Wall Street yang sebelumnya juga menunjukkan penguatan, turut memberikan dorongan bagi pasar di Asia.

Hitung Weton Jodoh: Rahasia Pernikahan Langgeng?

Di balik optimisme Jepang, ada agenda penting yang akan segera berlangsung. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump, pekan ini di Tokyo. Pertemuan ini sangat dinantikan mengingat implikasinya terhadap hubungan dagang dan ekonomi kedua negara. Menurut catatan dari Crédit Agricole CIB, Takaichi diperkirakan akan menyampaikan pesan untuk memperluas permintaan domestik melalui kebijakan ekonomi ekspansif. Langkah strategis ini dinilai dapat membantu Jepang keluar dari stagnasi deflasi struktural yang telah berlangsung lama. Selain itu, inisiatif ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan defisit perdagangan AS, menciptakan sebuah situasi “win-win solution” yang saling menguntungkan bagi kedua negara adidaya ekonomi tersebut.

Kondisi positif juga melanda bursa saham di kawasan Asia lainnya. Indeks Kospi Korea Selatan juga mencetak rekor dengan melonjak 2,1% dan menembus level 4.000 untuk pertama kalinya. Di samping itu, indeks Kosdaq juga naik 1,45%, menambah deretan panjang penguatan di pasar Korsel. Bursa saham Hong Kong, melalui indeks Hang Seng, menguat 1,15%, sementara CSI 300 China daratan juga tidak ketinggalan dengan kenaikan 0,83%. Penguatan yang merata di bursa-bursa utama Asia ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Dari Korea Selatan, kabar positif turut datang dari industri hiburan yang mendunia. Saham Hybe, agensi yang menaungi grup idola K-pop fenomenal BTS, melonjak hampir 10%. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh laporan dari Bloomberg yang menyebutkan bahwa supergrup tersebut akan menggelar tur dunia di 65 kota, dengan separuhnya berlokasi di Amerika Utara. Prospek pendapatan besar dari tur ini memberikan sentimen positif bagi saham Hybe dan menunjukkan pengaruh besar industri hiburan terhadap pergerakan pasar saham.

Melengkapi gambaran positif di kawasan, indeks S&P/ASX 200 Australia juga tercatat naik 0,54% di awal perdagangan. Kenaikan ini menegaskan bahwa gelombang optimisme dan penguatan pasar saham Asia telah merambah ke berbagai negara, menciptakan kontras yang mencolok dengan kondisi pasar modal di Indonesia pada sesi perdagangan awal pekan ini.

Sumber: Kontan.co.id

Coretax DJP: Serah Terima dari Vendor 15 Desember!

Facebook Comments Box

POPULER





Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
×
×