Ekonomi
Beranda / Ekonomi / IHSG Loyo? 3 Saham Ini Bisa Jadi Peluang!

IHSG Loyo? 3 Saham Ini Bisa Jadi Peluang!

HIMBAUAN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi potensi koreksi signifikan dalam pekan ini, didorong oleh serangkaian katalis global yang menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan. Analisis ini menguraikan bagaimana kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap Tiongkok diperkirakan akan meningkatkan ketegangan perdagangan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global, yang pada gilirannya menekan kinerja pasar saham domestik.

Selain itu, ketegangan antara AS dan Tiongkok secara historis mendorong kenaikan harga emas. Menurut analisis pasar yang konsisten, emas berperan sebagai aset lindung nilai atau safe haven di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik. Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menegaskan bahwa kombinasi faktor-faktor eksternal ini berpotensi memicu aksi profit taking dan peningkatan risiko keluarnya dana asing (foreign outflow) dari pasar saham domestik.

Mengapa IHSG Dihadapkan pada Tekanan Koreksi?

IHSG diproyeksikan berpotensi menguji level support di 8.150, dengan resistance terdekat berada pada 8.272. Penurunan ini tidak terjadi tanpa alasan; beberapa faktor kunci secara kolektif berkontribusi terhadap sentimen negatif pasar.

Salah satu pemicu utama adalah kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap Tiongkok. Kebijakan semacam ini, yang sering kali digunakan sebagai alat negosiasi dalam hubungan perdagangan internasional, meningkatkan biaya impor dan ekspor antarnegara. Dampak langsungnya adalah peningkatan ketegangan perdagangan yang dapat menghambat aliran barang dan modal global. Dalam pandangan ekonom, hambatan perdagangan berpotensi mengerem pertumbuhan ekonomi global, sebagaimana ditegaskan oleh berbagai studi kasus historis yang dipublikasikan oleh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Sejalan dengan itu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya memengaruhi perdagangan, tetapi juga persepsi risiko investor secara keseluruhan. Dalam lingkungan di mana ketidakpastian politik meningkat, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman untuk melindungi modal mereka. Emas, sebagai safe haven tradisional, mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Data dari World Gold Council secara konsisten menunjukkan bahwa di masa krisis atau ketidakpastian, harga emas sering kali naik.

Coretax DJP: Serah Terima dari Vendor 15 Desember!

Kondisi ini, menurut Hari Rachmansyah, menciptakan momentum bagi aksi profit taking. Investor yang sebelumnya telah menikmati keuntungan dari kenaikan harga saham akan cenderung menjual aset mereka untuk mengamankan keuntungan tersebut di tengah proyeksi pasar yang kurang menguntungkan. Fenomena ini, yang diamati secara rutin dalam siklus pasar, dapat menyebabkan arus keluar dana asing (foreign outflow). Ketika investor asing menarik modalnya dari pasar domestik, tekanan jual di bursa saham meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong IHSG ke level yang lebih rendah.

Merespons dinamika ini, Hari Rachmansyah menyarankan pelaku pasar untuk bersikap defensif. Sikap defensif berarti mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi dan memprioritaskan aset yang lebih stabil. Investor disarankan untuk fokus pada saham berfundamental kuat, yaitu perusahaan dengan kondisi keuangan yang sehat, manajemen yang baik, dan prospek bisnis yang stabil. Strategi tambahan yang direkomendasikan adalah menerapkan strategi buy on weakness secara selektif. Metode ini melibatkan pembelian saham ketika harganya turun, dengan asumsi bahwa penurunan tersebut hanya bersifat sementara dan saham tersebut akan pulih. Penerapan strategi ini membutuhkan analisis cermat untuk membedakan antara koreksi sementara dan tren penurunan yang lebih dalam, seperti yang sering diungkapkan dalam laporan riset investasi dari berbagai lembaga keuangan.

Kinerja IHSG Pekan Lalu: Antara Rekor dan Arus Dana Asing

Proyeksi potensi koreksi IHSG ini muncul setelah pasar baru saja mencatatkan periode penguatan yang mengesankan. Sepanjang pekan lalu, dari 6 hingga 10 Oktober 2025, IHSG berhasil menguat dan mencatatkan rekor tertinggi baru (ATH) di level 8.272 pada Kamis, 9 Oktober 2025. Pencapaian ATH baru ini menjadi indikator optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik. Optimisme ini muncul meskipun ada ketidakpastian global, termasuk shutdown pemerintah AS yang sempat memicu kekhawatiran fiskal dan fluktuasi harga komoditas yang berdampak pada pendapatan negara-negara eksportir.

Hari Rachmansyah menambahkan bahwa meskipun tercatat adanya net sell asing sebesar Rp1,3 triliun selama periode tersebut, tekanan jual ini berhasil diimbangi oleh kuatnya minat beli investor domestik. Fenomena ini menunjukkan resiliensi pasar domestik yang didukung oleh kepercayaan investor lokal. Minat beli yang tinggi ini, menurut analisis IPOT, terutama terlihat pada saham-saham konglomerat yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan fundamental yang solid, seperti RAJA, TINS, CUAN, dan CDIA. Saham-saham ini menjadi penggerak utama indeks, menunjukkan bahwa aliran dana domestik memiliki peran signifikan dalam menopang pasar di tengah tekanan jual dari investor asing.

Proyeksi dan Rekomendasi Saham Pilihan dari IPOT untuk Pekan Ini

Memasuki pekan perdagangan 13-17 Oktober 2025, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap dibayangi oleh sejumlah katalis global yang berpotensi menekan sentimen pasar. Tekanan ini, sebagaimana diungkapkan Hari Rachmansyah, diperkirakan akan muncul di awal pekan, terutama dipicu oleh kebijakan tarif baru yang diterapkan pemerintahan Trump terhadap Tiongkok. Kebijakan ini, yang secara historis sering kali memicu respons pasar negatif, dapat meningkatkan ketegangan perdagangan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan global.

Pollux Hotels Terbitkan Obligasi Keberlanjutan Rp500 M

Di sisi lain, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga berpotensi mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai. Sebagaimana didukung oleh berbagai riset pasar, dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap aman seperti emas. Kombinasi faktor eksternal tersebut dapat memicu aksi profit taking dan meningkatkan risiko terjadinya arus keluar dana asing (foreign outflow) dari pasar saham domestik dalam jangka pendek. Oleh karena itu, Hari Rachmansyah mengulangi kembali sarannya agar pelaku pasar bersikap defensif, fokus pada saham berfundamental kuat, serta menerapkan strategi buy on weakness secara selektif.

Merespons dinamika pasar yang fluktuatif ini, IPOT merekomendasikan tiga saham pilihan untuk strategi trading sepanjang pekan ini, berdasarkan analisis teknikal dan fundamental terbaru:

CDIA: Peluang Penguatan dari Konsolidasi Anak Usaha?

CDIA direkomendasikan dengan Entry di 2.320, Target Price (TP) 2.670, dan Stop Loss (SL) 2.140. Sepanjang pekan terakhir, CDIA mencatat net buy asing sebesar Rp536 miliar, yang menunjukkan minat beli yang solid dari investor luar negeri. Saham ini berpotensi melanjutkan tren naik selama bertahan di atas EMA-5, sebuah indikator teknikal yang sering digunakan untuk mengidentifikasi tren jangka pendek. Potensi penguatan ini juga didukung oleh sentimen positif dari langkah perusahaan untuk memperkuat kendali pada dua anak usahanya di sektor pelayaran, CSI dan MIM. Strategi korporasi ini diharapkan dapat meningkatkan sinergi dan efisiensi operasional, yang pada gilirannya dapat mendorong kinerja keuangan CDIA di masa mendatang.

ANTM: Menguat di Tengah Ketidakpastian Global Berkat Emas?

ANTM memiliki rekomendasi Entry di 3.310, Target Price (TP) 3.600, dan Stop Loss (SL) 3.190. Dalam seminggu terakhir, ANTM mencatat net buy asing sebesar Rp135 miliar. Pembelian ini didorong oleh sentimen positif dari kenaikan harga emas yang signifikan, yang terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian global. ANTM, sebagai salah satu produsen emas terkemuka, secara langsung mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga komoditas ini. Kondisi pasar saat ini, di mana emas menjadi pilihan aset lindung nilai, memberikan peluang bagi saham ANTM untuk melanjutkan potensi penguatan dalam waktu dekat, sebagaimana sering diamati pada saham-saham komoditas di kala gejolak pasar.

SSIA: Sinyal Tren Naik dari Proyek Kawasan Industri Subang Smartpolitan?

Untuk saham SSIA, rekomendasi Entry berada di 2.090, Target Price (TP) 2.320, dan Stop Loss (SL) 1.970. Saham SSIA mulai menunjukkan perubahan arah dengan pergerakan harga yang berbalik ke tren uptrend. Pergeseran ini didukung oleh meningkatnya minat investor besar serta sentimen positif dari pengembangan proyek kawasan industri Subang Smartpolitan. Proyek ini merupakan katalis utama karena diharapkan dapat menarik investasi dari berbagai sektor, termasuk otomotif dan manufaktur. Keberhasilan proyek Subang Smartpolitan diproyeksikan akan meningkatkan kinerja penjualan lahan dan pendapatan perusahaan ke depan, menjadikannya prospek menarik di mata investor.

Wall Street Reli: Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga?

Secara keseluruhan, meskipun IHSG menghadapi potensi tekanan koreksi dari faktor-faktor global, peluang investasi tetap ada bagi pelaku pasar yang cermat. Fokus pada saham berfundamental kuat dan strategi pembelian yang selektif menjadi kunci di tengah dinamika pasar saat ini. Investor dapat memantau perkembangan lebih lanjut melalui berbagai sumber berita ekonomi terkemuka seperti CNBC Indonesia untuk analisis pasar yang berkelanjutan.

Tag Headline: Proyeksi IHSG Terkoreksi, Rekomendasi Saham IPOT, Analisis Pasar Saham
Featured: IHSG Berpotensi Koreksi Akibat Tekanan Global, Ini Rekomendasi Saham Pilihan dari IPOT
{{category}}: Pasar Saham, Analisis Investasi, Rekomendasi Saham
Tag With coma: IHSG, Koreksi, Saham, Investasi, IPOT, Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, Pasar Modal, Ekonomi Global, Kebijakan Tarif AS, Tiongkok, Ketegangan Perdagangan, Emas, Safe Haven, Profit Taking, Foreign Outflow, Support, Resistance, Buy on Weakness, Fundamental Kuat, Rekor Tertinggi, ATH, Net Sell Asing, Investor Domestik, RAJA, TINS, CUAN, CDIA, ANTM, SSIA, Subang Smartpolitan, Tren Naik, Sektor Pelayaran, Harga Komoditas, Geopolitik

Facebook Comments Box

POPULER





Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
×
×