HIMBAUAN –
Kinerja bank-bank besar di kuartal III-2025 tengah menjadi sorotan pasar keuangan. Laporan laba yang akan segera dirilis diperkirakan menjadi penentu arah bisnis perbankan hingga akhir tahun. Ekspektasi pasar terhadap sektor perbankan selalu tinggi, mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Fluktuasi kinerja finansial bank-bank raksasa ini memiliki dampak signifikan, tidak hanya bagi investor dan analis, tetapi juga bagi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Namun, realisasi laba hingga Agustus 2025 menunjukkan performa yang masih tertinggal dari proyeksi konsensus analis. Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai kapasitas bank-bank besar untuk mengejar target yang telah ditetapkan, terutama dengan sisa waktu yang terbatas di tahun berjalan. Situasi ini mendorong para pengamat untuk lebih dalam menganalisis faktor-faktor pendorong dan penghambat kinerja perbankan.
Bagaimana Realisasi Laba Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri Tertinggal dari Proyeksi?
Laba PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) hingga Agustus 2025 mencapai Rp 32,6 triliun. Angka ini secara signifikan berada di bawah proyeksi konsensus Bloomberg, yang memperkirakan capaian laba BBRI di sembilan bulan pertama mencapai Rp 41,05 triliun. Artinya, BBRI membutuhkan tambahan laba sebesar Rp 8,4 triliun dari kinerja bulan September saja untuk memenuhi target konsensus tersebut. Tantangan ini menuntut strategi operasional yang sangat efektif dan efisien dalam periode singkat.
Situasi serupa juga dialami oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Hingga Agustus 2025, laba bank pelat merah itu tercatat Rp 30,65 triliun. Jumlah ini masih di bawah prediksi analis, yang memperkirakan laba tiga kuartal BMRI mencapai Rp 36,93 triliun. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kedua bank raksasa tersebut menghadapi tekanan untuk meningkatkan pendapatan di sisa kuartal terakhir guna menyamai ekspektasi pasar. Kondisi ini secara langsung memengaruhi sentimen investor dan valuasi saham di bursa.
Apa Sinyal Likuiditas dan Persaingan Deposito Dolar AS?
Analis Senior Bloomberg, Sarah Jane Mahmud, menilai bahwa perbankan masih menunjukkan perbaikan likuiditas. Indikator utama dari perbaikan ini adalah pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) empat bank besar yang naik 11,2% secara tahunan. Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang hanya 9,4% mengindikasikan ketersediaan dana yang melimpah di sistem perbankan. Fenomena ini memberikan ruang bagi bank untuk ekspansi kredit di masa mendatang, sekaligus memperkuat fondasi keuangan mereka.
Meskipun demikian, Sarah menyoroti adanya persaingan ketat dalam menarik deposito dolar AS. Rencana kenaikan bunga deposito hingga 4% pada November mendatang berpotensi meningkatkan biaya dana bagi bank. Kondisi ini dapat menekan margin bunga bersih (NIM), yang merupakan selisih antara bunga yang diterima dari pinjaman dan bunga yang dibayarkan untuk simpanan. Penurunan NIM secara langsung berdampak pada profitabilitas bank. Selain itu, risiko kualitas aset tetap menjadi perhatian serius, terutama jika penyaluran kredit tidak diiringi dengan mitigasi risiko yang memadai.
Bagaimana Pertumbuhan Kredit Dapat Menjadi Penopang Utama Kinerja Bank?
Penyaluran kredit kemungkinan besar meningkat berkat adanya stimulus baru dari pemerintah dan otoritas moneter. Stimulus ini bertujuan untuk mendorong aktivitas ekonomi, yang pada gilirannya akan memicu permintaan kredit dari berbagai sektor. Namun, Sarah Jane Mahmud mengingatkan bahwa bila porsi kredit untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dipaksa naik, kualitas aset bank berisiko terganggu. Sektor UKM seringkali memiliki profil risiko yang lebih tinggi dibandingkan korporasi besar, sehingga eksposur yang berlebihan dapat meningkatkan potensi kredit macet. Jika hal ini terjadi, biaya kredit berisiko melampaui perkiraan 6%, membebani laporan keuangan bank.
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa pertumbuhan kredit masih berpotensi meningkat dari posisi Agustus yang naik 7,56%. Secara realistis, ia memperkirakan pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 8%–9% hingga akhir tahun. Optimisme ini didasarkan pada proyeksi pemulihan ekonomi dan dorongan dari kebijakan pemerintah. Dari empat bank besar, Bank Mandiri (BMRI) menunjukkan agresivitas paling tinggi dengan pertumbuhan kredit 10,74% secara tahunan, sementara BCA berpotensi menyusul dengan 9,27% hingga Agustus. Pertumbuhan kredit yang kuat adalah mesin utama pendapatan bank, dan kinerja kedua bank ini menyoroti strategi ekspansi yang berhasil mereka terapkan.
Apakah Saham Bank Besar Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global?
Indy Naila menilai saham bank besar tetap menarik bagi investor, khususnya BBCA dan BMRI. Kedua saham ini dikenal memiliki fundamental yang kuat dan rekam jejak kinerja yang stabil. Indy merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.500–Rp 9.000 per saham, serta BMRI dengan target Rp 5.000 per saham. Target harga ini mencerminkan potensi apresiasi nilai saham berdasarkan analisis fundamental dan prospek pertumbuhan di masa depan, meskipun ada ketidakpastian ekonomi global. Investasi pada saham bank besar seringkali dianggap sebagai pilihan yang relatif aman di tengah volatilitas pasar.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, melihat peluang bank besar untuk mencetak pertumbuhan kredit dua digit masih terbuka lebar. Bank Indonesia (BI) sendiri menargetkan pertumbuhan kredit di rentang 8%–11% tahun ini. Batas atas target BI ini memberikan ruang bagi bank untuk mempercepat ekspansi, terutama pada kredit korporasi dan sektor unggulan seperti pertambangan. Sektor-sektor ini seringkali memiliki permintaan kredit yang besar dan berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap portofolio pinjaman bank. Ekspansi yang terarah pada sektor-sektor strategis dapat menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan laba yang ambisius.
Prospek Akhir Tahun 2025: Mampukah “Big Banks” Mengejar Ekspektasi Konsensus?
Dengan capaian laba yang masih tertinggal dari proyeksi, sektor kredit dipandang menjadi penopang utama kinerja bank besar hingga akhir tahun 2025. Peran pertumbuhan kredit yang sehat dan berkualitas akan sangat krusial dalam menutup kesenjangan pendapatan yang terjadi. Upaya bank untuk menjaga kualitas aset dan mengelola risiko kredit akan menjadi faktor penentu keberhasilan mereka dalam mencapai target. Kondisi likuiditas yang membaik, meskipun diwarnai persaingan deposito, memberikan modal bagi bank untuk terus menyalurkan pembiayaan.
Kini pasar menanti dengan antisipasi apakah “big banks” Indonesia mampu mengejar ekspektasi konsensus analis dalam tiga bulan terakhir tahun 2025. Hasil laporan keuangan kuartal IV nanti akan menjadi jawaban atas pertanyaan ini. Keberhasilan mereka tidak hanya akan memulihkan kepercayaan investor tetapi juga memperkuat fundamental sektor perbankan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.
BMRI Chart by TradingView
Tag Headline: Kinerja Bank, Laba Kuartal III, Proyeksi Analis, Pertumbuhan Kredit, Saham BBRI, Saham BMRI, DPK, NIM, Ekonomi Indonesia, Pasar Keuangan
Featured: Ya
{{category}}: Perbankan, Ekonomi, Investasi
Tag With Coma: Kinerja Bank, Laba Bank, Proyeksi Keuangan, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Perbankan Nasional, Pertumbuhan Kredit 2025, Analisis Pasar, Investasi Saham, DPK Bank, NIM Bank, Kualitas Aset, Sektor UKM, Kredit Korporasi, Target Bank Indonesia, Bloomberg, Edvisor Profina Visindo, Kiwoom Sekuritas Indonesia
Sumber: Bloomberg, Edvisor Profina Visindo, Kiwoom Sekuritas Indonesia, TradingView


