Mengapa KPAI Mendesak Evaluasi Menyeluruh Program Makan Bergizi Gratis?

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) secara tegas mendesak pemerintah untuk melakukan penghentian sementara dan evaluasi komprehensif terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Desakan krusial ini muncul menyusul insiden berulang keracunan massal yang menimpa anak-anak, termasuk mereka yang berada di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang kembali menjadi sorotan publik.
Apa Pemicu Desakan KPAI untuk Evaluasi MBG?
Jasra Putra, Wakil Ketua KPAI, menyatakan bahwa peristiwa keracunan makanan yang dialami anak-anak Indonesia dalam lingkup program MBG telah melampaui batas toleransi. Jasra Putra secara khusus menyoroti kasus terbaru yang melibatkan anak-anak di usia sangat belia PAUD, menggarisbawahi kerentanan kelompok usia ini. Kondisi fisiologis anak usia dini, menurutnya, jauh berbeda dengan orang dewasa; mereka mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan kondisi kesehatannya, terutama jika berasal dari lingkungan keluarga dengan tingkat kepekaan atau perhatian yang kurang optimal. Bagi KPAI, satu kasus keracunan yang menimpa anak sudah dianggap sebagai jumlah yang signifikan dan tidak dapat diabaikan.
Bagaimana KPAI Menggambarkan Urgensi Pengawasan MBG?
KPAI menganalogikan pelaksanaan program MBG seperti sebuah kendaraan yang dipacu terlalu cepat, sehingga pengemudi kehilangan kesempatan untuk mengamati kondisi jalan di depannya. Oleh karena itu, pemerintah perlu “menginjak rem” sejenak. Hal ini bertujuan untuk memperkuat aspek pengawasan, menyusun instrumen panduan yang lebih adaptif, serta menetapkan standar keamanan pangan yang ketat sebelum melanjutkan program. Langkah ini krusial demi memastikan keberlanjutan program tanpa mengorbankan keselamatan dan kesehatan anak-anak penerima manfaat.
Apa Hasil Survei KPAI, CISDI, dan WVI Mengenai Kualitas MBG?
Sebelumnya, KPAI berkolaborasi dengan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan World Vision Indonesia (WVI) dalam sebuah survei berskala besar untuk mendengarkan langsung “suara anak” terkait implementasi program MBG. Survei ini melibatkan 1.624 responden anak di 12 provinsi di Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 583 anak, yang merepresentasikan sekitar 35,9% dari total responden, pernah mengakui menerima makanan MBG yang kualitasnya menurun, berbau tidak sedap, atau basi. Lebih lanjut, 11 responden, atau sekitar 0,67%, bahkan tetap mengonsumsi makanan tersebut karena berbagai faktor, termasuk keterbatasan pilihan.
Keluhan Spesifik Apa yang Disampaikan Anak-anak Terkait Makanan MBG?
Anak-anak secara aktif menyampaikan keluhan signifikan mengenai kualitas dan higienitas makanan yang mereka terima. Sejumlah responden melaporkan pengalaman menemukan sayuran dan buah-buahan yang mengandung ulat, menerima makanan dengan bau yang tidak sedap, serta penyajian dalam wadah yang kotor. Keluhan ini menekankan kebutuhan mendesak akan perbaikan standar. Anak-anak berharap agar penyedia MBG dapat menjaga makanan tetap segar, memastikan tidak basi, dan menyajikan menu yang disesuaikan secara tepat dengan kebutuhan gizi mereka.
Empat Masalah Utama Apa yang Diidentifikasi KPAI dalam Program MBG?
Berdasarkan temuan survei komprehensif tersebut, KPAI mengidentifikasi empat masalah utama yang fundamental dalam Program Makan Bergizi Gratis. Pertama, aspek higienitas dan keamanan pangan program belum mencapai tingkat optimal, memicu kekhawatiran akan risiko kesehatan. Kedua, ketepatan waktu dan kualitas penyajian makanan seringkali mengecewakan anak-anak, mengurangi efektivitas program. Ketiga, program masih kekurangan edukasi gizi yang mendalam dan berkelanjutan, yang esensial untuk pemahaman anak tentang pentingnya asupan nutrisi. Keempat, implementasi program MBG cenderung lebih menekankan pada aspek ekonomi atau pengadaan, alih-alih berfokus pada pemenuhan gizi anak secara holistik.
Bagaimana Pemerintah Wajib Memastikan Keamanan dan Kualitas Makanan MBG?
Jasra Putra dengan tegas menyatakan bahwa prinsip perlindungan anak harus menjadi panduan utama dalam setiap tahapan program, dimulai dari memastikan kepentingan terbaik anak hingga memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat mereka. Pemerintah memiliki kewajiban mutlak untuk memastikan bahwa setiap makanan bergizi gratis yang diberikan kepada anak-anak adalah aman, berkualitas tinggi, dan tidak akan menimbulkan risiko keracunan massal. Himbauan untuk evaluasi program ini dapat ditemukan di website.url.
Pilihan Editor:Juru Bicara Sjafrie Sjamsoeddin: Tak Ada Niat Menerapkan Darurat Militer
Tags: KPAI, Program Makan Bergizi Gratis, MBG, Keracunan Massal, Anak-anak, PAUD, Keamanan Pangan, Gizi Anak, Evaluasi Program, Perlindungan Anak, Tasikmalaya, Jasra Putra, CISDI, World Vision Indonesia


