
HIMBAUAN – Di tengah riuhnya skandal naturalisasi yang melanda ranah sepak bola Malaysia, sebuah nama besar dari dunia kepelatihan Asia Tenggara tiba-tiba mencuat, menarik perhatian publik, terutama di kalangan penggemar Timnas Indonesia. Ia adalah Shin Tae-yong, pelatih kenamaan yang dikenal memiliki visi dan strategi mumpuni. Lebih dari sekadar isu transfer pelatih, pengakuan Shin Tae-yong terkait perbandingan sepak bola Indonesia dan Malaysia kini menjadi perbincangan hangat, membungkam publik Negeri Jiran dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan.
Kabar mengenai Shin Tae-yong yang dikaitkan dengan kursi pelatih skuad Harimau Malaya ini muncul seiring dengan memanasnya situasi di Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Laporan terbaru menyebutkan adanya potensi penangguhan dewan penasihat tim nasional Malaysia setelah FIFA menemukan bukti-bukti baru yang semakin memberatkan. Implikasi dari potensi pembekuan dewan penasihat ini tentu akan sangat signifikan, termasuk mengancam posisi pelatih timnas saat ini, Peter Cklamovski, yang nasibnya kini berada di ujung tanduk.
Bahkan setelah FIFA dan AFC menjatuhkan sanksi kepada Malaysia akibat skandal ini, belum ada jaminan pasti mengenai kelangsungan karier pelatih asal Australia tersebut. Ketidakpastian inilah yang kemudian memicu spekulasi liar mengenai siapa sosok yang berani mengambil alih kemudi Harimau Malaya. Tak disangka, nama Shin Tae-yong, mantan pelatih Timnas Indonesia yang sempat mengukir prestasi gemilang, mendadak digadang-gadang sebagai kandidat utama.
Media lokal Negeri Jiran, Harian Metro, secara eksplisit memberitakan, “Shin Tae-yong siap memimpin Timnas Malaysia.” Menurut laporan media tersebut, pelatih berkebangsaan Korea Selatan ini disebut-sebut tidak akan menolak jika mendapatkan tawaran resmi untuk menukangi rival bebuyutan Timnas Indonesia itu. Sebuah klaim yang sontak mengejutkan banyak pihak, mengingat kiprahnya bersama skuad Garuda.
“Mantan pelatih Timnas Korea itu tidak menolak kemungkinan pergi ke Malaysia untuk memimpin Harimau Malaya jika mendapat tawaran resmi,” demikian tulis Harian Metro, mempertegas spekulasi yang beredar luas. Isu ini dengan cepat menyebar dan menjadi sorotan utama, tidak hanya di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga di media-media regional, termasuk Vietnam, yang turut mengangkat potensi kepindahan Shin Tae-yong.
Namun, di balik riuhnya kabar tersebut, Shin Tae-yong sendiri secara terbuka mengakui bahwa ia masih merasa ‘buta’ mengenai kekuatan sepak bola Malaysia saat ini. Meskipun demikian, ia tidak ragu untuk memberikan perbandingan yang tajam dan berbasis pengamatan terhadap kualitas sepak bola antara Malaysia dan Indonesia. Pernyataannya ini kemudian menjadi sorotan utama, terutama bagi publik Malaysia.
Menurut pandangannya, sepak bola Malaysia dinilai masih tertinggal dari Indonesia, khususnya dalam hal sistematika pengembangan tim nasional. Sistematisasi ini, kata Shin Tae-yong, mencakup seluruh jenjang, mulai dari tim nasional kelompok umur hingga tim senior. Indonesia, menurutnya, menunjukkan kemajuan yang lebih terstruktur dan berkesinambungan.
“Saya belum pernah punya pengalaman bekerja di Malaysia, jadi saya tidak berani berkomentar lebih mendalam tentang tim nasional negara ini,” ujar Shin Tae-yong, memulai pernyataannya dengan hati-hati. “Namun, kesan pertama saya, jika kita membandingkan sepak bola Malaysia dan Indonesia, sepak bola Indonesia lebih sistematis. Dari level muda, khususnya level U-17 hingga tim nasional senior, sepak bola Indonesia berkembang lebih sistematis dibandingkan Malaysia,” tambahnya, memberikan penekanan pada fondasi dan struktur pembinaan.
Sejarah kepelatihan Timnas Malaysia juga mencatat kehadiran pelatih asal Korea Selatan sebelumnya, Kim Pan-gon. Namun, romansa Kim Pan-gon dengan Harimau Malaya tidak berlangsung lama, ia memilih mundur dari jabatannya pada Juli 2024. Setelahnya, Malaysia sempat ditangani oleh pelatih asal Spanyol, Pau Marti, sebelum akhirnya menunjuk Peter Cklamovski pada Desember 2024.
Di bawah arahan pelatih asal Australia itu, Timnas Malaysia sempat menorehkan catatan impresif, yakni tidak terkalahkan sepanjang tahun 2025. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, namun sayangnya, catatan gemilang ini tercoreng parah dengan terungkapnya skandal naturalisasi oleh FIFA. Malaysia terbukti melakukan pemalsuan dokumen terhadap tujuh pemain naturalisasi yang diklaim memiliki garis keturunan Negeri Jiran. Skandal ini tidak hanya merusak citra sepak bola Malaysia, tetapi juga membawa ketidakpastian yang besar terhadap masa depan tim nasional mereka, membuka pintu bagi berbagai spekulasi, termasuk kemungkinan kedatangan Shin Tae-yong.


