HIMBAUAN – Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah signifikan dengan mengucurkan dana insentif lebih besar dari yang direncanakan semula untuk kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) tahun 2025. Langkah ini berimbas positif, melonggarkan likuiditas di sektor perbankan.
KLM, sebagai sebuah stimulus, diberikan oleh BI kepada bank-bank yang berkomitmen menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Insentif ini berupa pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga maksimal 5%.
Hingga pekan pertama November 2025, realisasi insentif KLM yang telah disalurkan BI mencapai angka fantastis, Rp 404,6 triliun. Jumlah ini jauh melampaui alokasi awal yang ditetapkan sebesar Rp 283 triliun untuk sepanjang tahun 2025. Data ini memperlihatkan keseriusan BI dalam mendorong pertumbuhan kredit di sektor-sektor strategis. (Sumber: Laporan Keuangan Bank Indonesia November 2025)
Dari total realisasi tersebut, bank umum swasta menjadi penerima insentif KLM terbesar dengan nilai Rp 179,9 triliun. Diikuti oleh bank milik negara sebesar Rp 179,4 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp 39,3 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp 6 triliun. Pembagian ini mencerminkan peran penting berbagai jenis bank dalam mendukung perekonomian.
Insentif ini disalurkan untuk memacu pertumbuhan di sektor-sektor yang menjadi prioritas, di antaranya pertanian, perdagangan, manufaktur, real estate, perumahan rakyat, konsumsi, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, ultra mikro, dan ekonomi hijau. Fokus pada sektor-sektor ini diharapkan dapat menciptakan efek domino yang positif bagi perekonomian secara keseluruhan. (Sumber: Data Penyaluran Insentif KLM BI, November 2025)
Peningkatan realisasi insentif KLM ini sejalan dengan membaiknya indikator likuiditas perbankan. Hal ini tercermin dari penurunan rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR), sebuah indikator penting dalam mengukur kesehatan likuiditas bank.
Kebijakan Matchmaking OIS BI Dorong Pertumbuhan Likuiditas Perbankan
Salah satu contohnya adalah PT CIMB Niaga Tbk. Laporan keuangan kuartal III-2025 menunjukkan posisi LDR CIMB Niaga berada di level 81,1%, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 84,3%. Rata-rata GWM bank juga mengalami penurunan menjadi 5,44% dari sebelumnya 6,97%.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengakui bahwa KLM berperan penting dalam melonggarkan likuiditas bank. Secara spesifik, ia menyoroti pengaruh KLM dalam menurunkan biaya dana (cost of fund/COF).
“KLM membantu kami meringankan COF. Namun, tentu saja sejauh masih sesuai dengan *line of business* yang menjadi keahlian dan tujuan utama bank,” jelas Lani kepada Kontan, Rabu (19/11/2025). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah dan strategi bisnis bank.
Selain CIMB Niaga, PT Bank KB Indonesia juga mencatatkan penurunan LDR yang signifikan, menjadi 91,6% dari sebelumnya 97,5%. GWM rata-rata bank juga menyusut menjadi 4,2% dari 7,7%.
Head of Corporate Relations PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank), Adi Pribadi, menjelaskan bahwa saat ini bank berhasil meningkatkan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM), yang menjadi salah satu faktor penentu besaran KLM, melampaui target yang ditetapkan.
“Di atas target dan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Penyaluran ke sektor-sektor prioritas juga terus meningkat, sehingga kami memperoleh insentif sesuai ketentuan BI,” kata Adi. Sayangnya, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai proporsi kredit di masing-masing sektor.
Terlepas dari insentif KLM, Adi menekankan bahwa bank lebih mengutamakan upaya memperkuat likuiditas melalui pengelolaan dana yang hati-hati dan membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah. Pendekatan ini diyakini dapat menjaga stabilitas struktur pendanaan KB Bank dan mendukung ekspansi kredit secara berkelanjutan.
Senada dengan itu, PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga tidak sepenuhnya bergantung pada insentif untuk menjaga likuiditas. Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia, Bianto Surodjo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit tetap menjadi fokus utama bank, bahkan tanpa adanya insentif dari pemerintah.
Strategi Bank Jaga Likuiditas Valas di Tengah Penurunan BI Rate
“Fokus kami ada beberapa. Dari sektor ritel ada KPR, kartu kredit, lalu melalui anak usaha seperti Maybank Finance. Dari non-ritel pun kami memberikan pembiayaan ke UMKM yang cukup signifikan, di samping korporasi dan institusi keuangan,” jelas Bianto.
Dengan upaya tersebut, Maybank mampu menjaga tingkat likuiditasnya. Meskipun demikian, LDR bank tercatat turun tipis menjadi 74,0% dari sebelumnya 75,9%. Sementara itu, GWM rata-rata mengalami penurunan yang lebih signifikan, menjadi 4,6% dari 6,08%.
Skema Baru untuk Mendorong Penurunan Suku Bunga Kredit
Selain melalui pemenuhan RPIM, BI berencana untuk menambahkan insentif maksimal 0,5% bagi bank berdasarkan tingkat kecepatan bank dalam menyesuaikan suku bunga kredit atau pembiayaan baru terhadap BI rate. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter.
KB Bank menyambut positif skema baru ini. Adi menjelaskan bahwa pihaknya akan menyesuaikan suku bunga kredit secara bertahap dan hati-hati, dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan profitabilitas.
Sementara itu, CIMB Niaga berpendapat bahwa penurunan suku bunga tidak serta-merta dilakukan dengan mengikuti tren BI rate. Menurut mereka, penentuan suku bunga sangat bergantung pada tingkat COF bank.
“Suku bunga kredit amat sangat bergantung dari COF DPK (dana pihak ketiga), namun apabila ada tambahan penurunan COF dari KLM sangat baik,” pungkasnya.
BI Rate Dipangkas, Perbankan Harap Likuiditas Valas Melonggar di Semester II-2025
Secara keseluruhan, kebijakan insentif KLM dari BI telah memberikan dampak positif bagi likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas. Meskipun demikian, setiap bank memiliki strategi yang berbeda dalam mengelola likuiditas dan menentukan suku bunga kredit.


