HIMBAUAN – JAKARTA. Pasar saham Indonesia, yang secara tradisional menantikan euforia “window dressing” menjelang penutupan tahun, kini dihadapkan pada proyeksi yang berbeda. Fenomena `window dressing` pada tahun 2025 diprediksi tidak akan semeriah dan sekuat periode sebelumnya, mengisyaratkan perlunya kehati-hatian bagi para investor.
Muhammad Wafi, seorang analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), mengungkapkan bahwa `window dressing` biasanya muncul dalam dua bulan terakhir sebelum tahun buku ditutup. Namun, khusus untuk tahun 2025, aksi ini kemungkinan besar tidak akan sekuat yang terlihat pada periode 2021 hingga 2023. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (30/10/2025) malam, menyoroti beberapa faktor fundamental yang akan membayangi pasar.
Salah satu penyebab utama meredupnya potensi `window dressing` adalah ketidakpastian kondisi makroekonomi global yang masih membayangi. Berbagai isu kompleks, mulai dari ketegangan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia yang berpotensi memicu gejolak ekonomi, hingga spekulasi seputar kelanjutan potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Fed, yang baru diperkirakan terjadi pada awal 2026, menjadi sentimen negatif bagi pasar global dan domestik.
Tidak hanya dari sisi eksternal, kondisi internal pasar domestik juga turut memberikan tekanan. Wafi menambahkan bahwa likuiditas investor institusi di dalam negeri masih cukup ketat, membatasi ruang gerak mereka untuk melakukan akumulasi saham besar-besaran. Selain itu, pasar saham Indonesia juga belum sepenuhnya terbebas dari risiko `outflow` asing. Tercatat, `net sell` investor asing telah mencapai angka lebih dari Rp 47 triliun secara `year to date` (ytd), mengindikasikan bahwa minat investor global terhadap aset domestik masih rendah. Potensi `profit taking` pada saham-saham `big caps` yang sebelumnya sempat `rebound` juga menjadi ancaman tersendiri.
Lebih lanjut, faktor-faktor eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan fluktuasi harga komoditas global juga dapat menahan optimisme pasar secara keseluruhan. Kondisi ini menciptakan lingkungan investasi yang penuh tantangan, menyulitkan manajer investasi untuk melakukan “percantikan” portofolio secara optimal.
Meskipun demikian, di tengah bayang-bayang pesimisme tersebut, ada beberapa sektor yang diperkirakan akan tetap menjadi incaran utama para Manajer Investasi (MI) untuk mempercantik portofolio mereka menjelang akhir tahun. Sektor-sektor ini antara lain adalah perbankan, konsumer, dan telekomunikasi. Pilihan ini didasarkan pada karakteristik sektor-sektor tersebut yang notabene memiliki likuiditas tinggi dan bobot yang signifikan dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dari sektor-sektor unggulan tersebut, beberapa saham `big caps` yang berpotensi menjadi target utama akumulasi MI meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Saham-saham ini dikenal memiliki fundamental yang kuat dan seringkali menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar.
Di sisi lain, terdapat pula peluang menarik pada saham-saham lapis kedua yang bersifat defensif, seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Saham-saham ini dinilai memiliki valuasi yang masih menarik dan menunjukkan kinerja yang relatif stabil, menjadikannya pilihan strategis bagi investor yang mencari keamanan di tengah volatilitas pasar.
Cek Harga Emas Antam Hari Ini (31/10), Melonjak Rp 42.000 Jadi Rp 2.305.000 Per Gram
Dengan segala asumsi yang ada, termasuk jika `inflow` investor domestik tetap kuat dan tekanan global tidak bertambah parah, Wafi memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditutup di kisaran 8.400 pada akhir tahun 2025. Namun, jika `window dressing` dapat berjalan lebih agresif dari perkiraan awal, dalam skenario terbaik (`best case`), IHSG memiliki potensi untuk menyentuh level sekitar 8.600. Proyeksi ini memberikan gambaran tentang rentang pergerakan IHSG yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.

BBCA Chart by TradingView
Sumber: MSN.com


